[Webinar 3]: Road to Indonesian Scholars Scientific Summit 2019

Halo sobat PPI Taiwan!

 

Webinar kedua dalam rangka menyambut Indonesian Scholars Scientific Summit (I3S) 2019 PPI Taiwan hadir kembali pada hari Kamis, 29 Agustus 2019 dengan mengusung tema yang sedang ramai diperbincangkan di kalangan akademis Indonesia yaitu “Quo Vadis rektor asing dalam mendongkrak peringkat Internasional Perguruan Tinggi Indonesia”. Webinar kali ini berkolaborasi dengan PPI National Pingtung University of Science and Technology (NPUST). Narasumber-narasumber terbaik dihadirkan pada webinar kali ini yaitu, pertama, Ahmad Rizky M. Umar mantan Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia 18/19 yang sekarang sedang menempuh pendidikan doktoral di University of Queensland. Kedua, Bapak Kristian Widya Wicaksono selaku akademisi di Universitas Katolik Parahyangan yang juga sedang menempuh pendidikan doktoral di Tunghai University, Taiwan. Moderator webinar bulan ini ialah Sabiha Ramadani selaku ketua PPI NPUST.

Wacana pemerintah untuk mendatangkan rektor dari luar negeri bertujuan untuk meningkatkan peringkat Perguruan Tinggi Indonesia secara global yang dinilai masih rendah. Berangkat dari permasalahan tersebut, Umar selaku pemateri pertama yang memiliki pengalaman sebagai peneliti menuturkan bahwa upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas Perguruan Tinggi sebaiknya dilakukan melalui peningkatan aktivitas ilmiah secara global daripada mendatangkan rektor dari luar negeri, dikarenakan aktivitas ilmiah antar peneliti diluar dan didalam negeri lebih dapat memberikan kontribusi besar bagi pendidikan tinggi di Indonesia. Sehingga dirinya berpendapat bahwa, kurang relevan apabila pemerintah memutuskan untuk mendatangkan rektor asing dalam upaya peningkatan kualitas, sebab menurutnya pengaruh rektor dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi merupakan satu dari sekian banyak infrastruktur yang ada dan bersifat sementara sehingga tidak menjawab permasalahan yang dihadapi.

Umar juga menyampaikan, tantangan lain untuk meningkatkan kualitas Perguruan Tinggi adalah mendorong sumber daya untuk inovasi yang berkelanjutan. Terdapat 3 tren mengenai hal ini antara lain industri 4.0, globalisasi sistem inovasi dan pembangunan berkelanjutan. 3 tantangan yang akan dan sedang dihadapi oleh perguruan tinggi yang pertama adalah problem mispersepsi tentang riset, pendidikan tinggi, inovasi dan manajemen SDM. Kedua mengenai kebijakan dan institusional yang harusnya terintegrasi. Sedangkan yang ketiga, keberlanjutan inovasi riset yang ditinjau dari multidisipliner ilmu agar dapat dinikmati secara global. Sehingga solusi yang diperlukan untuk menjawab tantangan ini adalah dengan membentuk ekosistem pengetahuan yang sifatnya sistemik. Beberapa tahapan strategis yang dapat dilakukan adalah tradisi pengetahuan yaitu memperkuat literasi dan pengabdian masyarakat, pembentukan komunitas epistemic didalam negeri, membangun konektivitas akademik secara global yang tidak hanya terbatas pada MoU melainkan dapat terselenggara kolaborasi riset dan tahapan terakhir yang dapat dilakukan yaitu reorientasi basis pengajaran ke riset.

Menanggapi topik ini, Kristian yang juga berperan sebagai narasumber pada webinar kali ini mencoba membahasnya dari aspek administratif dan kebijakan perguruan tinggi negeri. Menurut pandangannya, pejabat tinggi Perguruan Tinggi Indonesia seperti rektor dan dekan saat ini lebih terfokus pada kegiatan admisnistratif yang menyebabkan produktivitas terhadap aktivitas ilmiah menjadi menurun. Sehingga, hal ini sangat menarik untuk didiskusikan, Apakah rektor yang didatangkan dari luar negeri dapat beradaptasi dengan kultur dan eksosistem internal dan eksternal yang telah terbentuk atau malah dapat memberikan efek kontraproduktif terhadap perguruan tinggi negeri itu sendiri, tuturnya. Efek kontraproduktif ini terjadi apabila para staff administratif dan tenaga pengajar belum bisa mengikuti pola kepemimpinan baru yang dibawanya. Sehingga sebetulnya, terobosan ini harus muncul setelah evalusi kebutuhan dan masalah setiap perguruan tinggi lalu selanjutnya membuat strategi yang baik untuk kedepannya, yang harapannya inovasi kebijakan ini tidak hanya serta merta dilakukan tetapi juga dapat memberikan efek nyata bagi aktifitas ilmiah dan masyarakat. (nng, rna)

 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *