Reportase : Simposium Internasional XI PPI Dunia 2019 Johor Bahru, Malaysia

Salah satu perhelatan tahunan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, Simposium Internasional XI yang merupakan permusyawaratan tertinggi dengan harapan dapat melahirkan gagasan-gagasan baru dan pengurus baru yang akan membawa PPI Dunia menjadi organisasi yang lebih baik kedepannya. Tahun ini, Simposium Internasional telah diselenggarakan di Universiti Teknologi Malaysia, Johor Bahru, Malaysia pada tanggal 10-14 Juli 2019. Perhelatan ini mengumpulkan perwakilan organisasi pelajar seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia dari 34 negara dan 51 Universitas di Indonesia. Tema yang diusung tahun ini adalah “Inovasi Berkelanjutan sebagai Sumbangsih Pemuda Indonesia untuk Kemandirian Bangsa”.

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan sendiri mendelegasikan 12 mahasiswa. Delegasi terdiri dari 2 delegasi utama yaitu Ketua PPI Taiwan Adi Kusmayadi yang didampingi oleh Audia Wira Rachmadi selaku Kepala Departemen Kajian Strategis dan Pengabdian Masyarakat dan 10 Delegasi Tambahan yaitu Sabiha Ramadani, Putri Daulika, Ghina Anggraeni, Emy Zahrotul, Hanifatus Sahro, Nita Rahayu, Sugiyati Ningrum, Satria Prima, Agus Bastiar dan Muhammad Fakhri.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Koordinator PPI Dunia 2018/2019, Fadjar Mulya yang merupakan mahasiswa Master di Departemen Kimia, Chulalongkorn University, Thailand ini selaras dengan tema yang diusung pada tahun ini. Menurutnya, Inovasi adalah kunci untuk memajukan sebuah negara, dengan inovasi kemandirian suatu bangsa dapat terwujud. Sebagai wujud dari tema besar tersebut, acara ini mendiskusikan isu-isu spesifik terkait dengan Kebijakan Riset, Inovasi dan Pendidikan tinggi, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan Kolaborasi Pelajar Indonesia di Dunia. Pemukulan gong oleh Prof. Dr. Ismunandar selaku Keynote Speaker dari Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan menjadi tanda dimulainya acara Simposium Internasional XI yang dilanjutkan dengan talkshow bersama dengan pembicara lainnya.

Pada kesempatan ini, salah satu narasumber, Prof. Dr. Ismunandar menyampaikan materi yang sekaligus didukung 4 panel diskusi. 4 panel diskusi tersebut membahas :

  1. Peran Pendidikan & Riset yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hadi Nur as Director of Centre for Suistanable Nanomaterials Ibnu Sina Institute for Scientific and Industrial Research.
  2. Peran Industri Kreatif & Pariwisata yang disampaikan oleh Bapak Guntur Subagja Mahardika selaku Ketua Bidang Ekonomi dan syariah dengan pemerintah serta lembaga Indonesia Halal lifestyle Centre, bersama Bapak Purnomo B. Soetadi selaku perwakilan dari Bank Muamalat Indonesia dan Miss Viviantie Sarjuni as Program Manager of MaGIC (Malaysian Global Innovation & Creativity Centre)Academy.
  3. Peran Pemerintah Daerah yang disamapikan oleh Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi, M.Sc selaku Gubernur Sumatera Barat ke-20, bersama Bapak Muhammad Chozin Amirullah selaku Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta ke-17 dan Bapak Imam Fauzan Amir Uskara selaku Anggota DPRD terpilih Provinsi Sulawesi Selatan.
  4. Peran Teknologi & Energi yang disampaikan oleh Dr. Ir. Heru Dewanto. M.Eng(Sc), IPU selaku Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Bapak Salman Subakat sebagai Chief Marketing Officer PT. Paragon Technology and Innovation.

Seluruh narasumber bersepakat bahwa dibutuhkan sinergi peran dari tiap sektor untuk lebih aktif lagi mengingat permasalahan-permasalahan yang muncul seperti hilirisasi inovasi yang belum optimal, menjadi lahan konsumsi dari produk intelectuall property (IP) asing, indikator pendanaan pemerintah untuk pelajar dan tingkat edukasi pekerja sebagai penawaran pelatihan formal masih tergolong lemah serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang masih bersifat eksploitatif terhadap Sumber Daya Alam. Oleh karena itu, Pembangunan berkelanjutan dapat dijadikan sebagai upaya untuk menangani permasalahan tersebut. Acara ini berlangsung hingga sore hari sekitar 18.00 waktu Malaysia, selanjutnya seluruh delegasi hadir dalam acara Alumni Night dengan pembicara Wakil Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (i4) Dhafi iskandar dan Unggul sagena yang dimoderatori langsung oleh Fadjar Mulya selaku Koordinator PPI Dunia 2018/2019. Dalam sesi acara ini, keduanya menyampaikan peran diaspora yang berintelektual sangat penting dalam mendukung kemajuan suatu bangsa baik selama pendidikan berlangsung ataupun kehidupan pasca sekolah.

Pada hari kedua, acara dibagi dalam 2 sesi yaitu Sidang internal PPI Dunia dan Coaching Session. Delegasi Utama menuju Sidang Internal PPI Dunia untuk pembahasan dan pengesahan konstitusi PPI dunia, penyampaian laporan pertanggung jawaban Dewan Presidium PPI dunia 2018/2019, pengenalan dan presentasi kandidat koordinator PPI Dunia 2019/2020 dan pemilihan koordinator PPI Dunia 2019/2020.

Pada sesi ini pula, Ketua Umum PPI Taiwan Adi Kusmayadi terpilih sebagai Presidium 3 bersama 2 presidium lainnya untuk memimpin jalannya persidangan hingga mendapatkan Koordinator PPI Dunia 2019/2020 yaitu Fadlan Muzakki dari PPI Tiongkok yang unggul atas perolehan suara dari Tubagus Aryandi G. (PPI Irlandia) dan Ahmad Ghiyats F. (HPMI Yordania). Tak hanya itu, pada sesi ini juga menetapkan Tiongkok sebagai tuan rumah Simposium Internasional 2020. Sedangkan delegasi tambahan diwaktu yang samai mengikuti Coaching Session bersama bapak Faisal Basri. M.A sebagai Ekonom Senior INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) yang bertemakan, “Peran Ekonomi politik dalam Pembangunan Inklusif Indonesia di Era VUCA” dan bapak Mohamad Fadhil Hasan Ph.D sebagai Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia & Ekonom senior INDEF dengan tema “Arah Kebijakan Pembangunan Indonesia untuk Mencapai Pemerataan Ekonomi”. Tema yang diangkat pada sesi ini sangat menarik untuk dikulik dan dipelajari.

Ekonomi politik sendiri merupakan suatu proses interaksi politik dan ekonomi dalam sebuah society, antar grup yang berbeda ataupun antar individu. Dalam Era VUCA seperti sekarang. Ketahanan ekonomi suatu negara sangat penting untuk diperhatikan, hal ini dikarenakan terdapat 4 fenomena (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity) yang datang bersamaan dan menciptakan “Unknown Condition”, sehingga diperlukan Inclusive Development yang memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum. Beliau menyatakan, tepat apabila Indonesia menggunakan konsep negara maritim, begitu pungkas pak Faisal Basri. Tak jauh berbeda dari pak Faisal Barsi, Pak Fadhil Hasan juga mengungkapkan bahwa Gini rasio Indonesia saat ini sudah mencapai 0.38 yang mana hampir mendekati angka 0.4 sebagai ambang batas maksimum. Hal ini terbukti dari penurunan angka kemiskinan yang semakin sulit dengan laju penurunan hanya 0.5-0.6%/tahun.

Tak hanya itu setelah jamuan makan siang, Coaching Session dilanjutkan oleh Miss. Vivianti Sarjuni as Program Manager of MaGIC Academy. MaGIC academy merupakan fasilitator dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi bagi para pelaku start-up baru melalui 2 program andalan yang ditawarkan yaitu MaGIC bootcamp dan Youth Co:Lab (https://mymagic.my/) dan dilanjutkan presentasi oleh 3 Tim Finalis Start-Up Fest diantaranya 1) SMART_ID sebagai penyedia Jasa Pemesanan Guru secara online; 2) Youth Training Centre sebagai upaya pengembangan Job Skill and Job Link di Era Revolusi Industri 4.0; 3) Kitong Bisa Enterprise sebagai usaha sosial berbadan hukum yang berfokus pada pendidikan dan juga menawarkan produk atau jasa yang memiliki ciri khas Papua, inkubasi training, pendampingan wirausaha dan akses bagi UMKM yang secara langsung dinilai oleh panelis. Kitong Bisa Enterprise berhasil menjadi pemenang dalam ajang.

Hari ketiga acara diawali dengan penyampaian gagasan bertema “Indonesian Policy Outlook 2019” oleh Kepala Pusat Kajian Gerakan PPI dunia 2018/2019 Ahmad Rizky M. Umar dan Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI Bapak Satya Widha Yudha. Menurut Umar, Anatomi problem klasik yang sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini dalam pengembangan inovasi adalah adanya Mispersepsi tentang “Inovasi” yang bukan hanya sekedar ouput tetapi juga proses pengembangan yang membutuhkan riset dan investasi SDM, kebijakan dan institusional yang kurang mendukung serta keberlajutan Inovasi dan Manajemen riset dalam menangani gap antar Theory and Practice, Gap Disipliner, Gap Peneliti, Gap Domestic/international.

Penuturan ini juga didukung oleh Bapak Satya yang juga menyatakan bahwa inovasi tidak boleh terhenti hanya pada bentuk karya tulisan saja namun harus juga diimplementasikan dalam kegiatan yang aplikatif dan berkelanjutan sehingga tujuan utama dari suatu inovasi untuk memeperbaiki ekonomi suatu negara dapat terwujud. Berangkat dari gagasan tersebut, kami seluruh delegasi dibagi dalam 5 komisi sebagai bentuk sumbangsih ide dan gagasan kepada pemerintahan baru 2019-2024 dari mahasiswa Indonesia yang sedang belajar diberbagai belahan dunia. 5 komisi ini diantaranya adalah Ekonomi, Sosial & Budaya, Energi, Pendidikan dan Kesehatan. Terdapat 7 agenda strategis yang direkomendasikan: 1) Membangun ekososistem pengetahuan yang strategis; 2) Mendorong pertumbuhan iklusif untuk optimalisasi revolusi industri digital di era VUCA; 3) Memberikan perhatian pada pendidikan literasi digital; 4) Mengembangkan kurikulum pendidikan yang responsif terhadap perkembangan dunia industri; 5) Memberikan perhatian yang lebih pada masalah kesehatan mental; 6) Mendorong laju pertumbuhan energi terbarukan dan 7) Mendorong peran aktif politik luar negeri Indonesia untuk perdamaian dunia. Lalu dimalam hari dilanjutkan dengan acara Cultural Night, seluruh delegasi dijamu makan malam diiringi oleh lagu-lagu tradisional, teater budaya yang berjudul “Ekspedisi Gadjah Mada” dan diakhiri dengan pemberian Awards bagi PPI Negara serta berfoto bersama yang berkesan.

Hari keempat, memasuki acara yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sebagian delegasi yaitu Heritage Visit. Panitia mengajak seluruh delegasi untuk pergi ke Melacca clock tower, Jonker Street, St. Paul Church, Museum Maritim Flora de la Mar, Masjid Selat Malaka dan diakhiri dengan Makan-makan di Ikan Bakar Prameswara.

Hari kelima, Closing ceremony, Pemutaran video kilas balik dan penyampaian kesan dan pesan Simposium Internasional XI yang menandai berakhirnya serangkaian acara yang telah disenggarakan 4 hari berturut-turut tersebut. (nng, rna)

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku”. Begitulah cara Bung Hatta salah satu bapak pendiri bangsa Indonesia, memasang visi yang begitu luhur akan negara yang pernah ia perjuangkan dan pertahankan”

-Sampai Jumpa di Simposium Internasional 2020, Tiongkok-

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *