Mengenal Politik Taiwan: Sekarang & Nanti

Share

Ardian Bakhtiar Rivai
Ketua Departemen Diplomasi & Kerjasama
Perhimpunan Pelajar Indonesia Taiwan

“Tak Kenal Maka Tak Sayang” begitulah pepatah yang biasa kita kenal sejak kanak-kanak. Budaya Indonesia yang mengajarkan kita untuk mengenal sebelum menyayangi mempengaruhi cara kita berinteraksi sebagai manusia Indonesia.

Artikel ini mencoba mengajak para pembaca, pelajar Indonesia di Taiwan, untuk memulai tahapan taaruf kepada Taiwan dalam bingkai ilmu politik. Untuk mengenal Taiwan secara mendalam, artikel ini menyajikan proses perkenalan dalam bingkai Taiwan sebagai identitas sebuah bangsa. proses memahami dan mengenali sebagai pelajar yang sedang menuntut ilmu di Taiwan ini sangatlah penting bagi kita, agar kelak kita bisa memahami bagaimana sesungguhnya kontestasi dan dinamika politik di negeri ini. Apa yang sedang dan akan dialami oleh Taiwan, sesungguhnya merupakan refleksi tentang pentingnya makna Identitas Kebangsaan, seperti yang pernah disampaikan oleh Bennedict Anderson dalam bukunya “The Imagined Communities”.

Pertanyaan kemudian muncul, apakah Taiwan ini adalah negara yang merdeka atau Taiwan adalah bagian dari provinsi dari People Republic of China? Tentu, untuk menjawab pertanyaan ini akan muncul perdebatan-perdebatan baru dalam kaidah keilmuan, baik itu ilmu politik, hukum, sosial, atau bahkan ilmu ekonomi sekaligus. Sesungguhnya, ada dua cara untuk melihat jawaban atas pertanyaan ini. Pertama, bila kita sebagai pelajar Indonesia di Taiwan berkeyakinan bahwa Taiwan adalah negara yang merdeka, maka pijakan perspektif yang kita gunakan adalah sejarah tentang pendirian Republic of China yang diinisiasi oleh Dr. Sun Yat sen bersama pasukan nasionalismenya pasca konflik dengan kelompok komunis di Nanjing, China.

Pijakan sejarah ini membawa kita kepada pemahaman bahwa Taiwan adalah negara yang merdeka dan berdaulat dengan asas-asas prinsip demokrasi. Secara de jure, Taiwan memiliki pemerintahan mandiri, Taiwan juga memiliki territorial, Taiwan pun memiliki rakyat yang berdaulat, dan yang terpentig Taiwan juga masih merawat hubungan diplomatis dengan beberapa negara khususnya di Afrika. Meskipun, untuk konsep hubungan diplomatis ini akan menimbulkan perdebatan lagi. Dan penulis mencoba untuk tidak masuk ke ranah itu.

Pada hakikatnya, Taiwan sebagai sebuah negara atau sebuah identitas yang terjadi saat ini adalah bagian dari sejarah masa lalu yang belum tuntas secara politik. Sejarah masa lalu yang ditinggalkan oleh para bapak bangsa Taiwan masih menyisakan beberapa persoalan, termasuk yang saat ini penulis sedang tekuni, yakni kajian tentang Identitas Politik Kebangsaan Taiwan. Penulis berkeyakinan bahwa masalah identitas nasional Taiwan merupakan anak tangga awal yang harus dilalui sebelum kita bisa menjawab pertanyaan tentang status Taiwan sebagai negara merdeka atau provinsi dari China? Identitas sebuah bangsa adalah jawaban pembuka atas pertanyaan besar itu. Identitas bagi sebuah bangsa sama pentingnya dengan keberadaan bangsa itu senidiri.

Identitas Nasional dan Pilihan Partai Politik di Taiwan

Bahasan tentang identitas nasional kita awali dengan sebuah data survei yang dilakukan oleh Election Study Center, National Cheng Chi University, sejak tahun 1992 sampai 2016. Data survei menunjukkan bahwa di Tahun 2016, sebanyak 59.3% masyarakat di Taiwan mengidentifikasikan dirinya sebagai Taiwanese. Sedangkan, masyarakat Taiwan yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Chinese hanya 3.0%. Yang menarik, masyarakat di Taiwan yang mengidentifikasi dirinya dalam identitas ganda (dual identities) baik itu sebagai Taiwanese dan Chinese, jumlahnya cukup banyak, yakni 33.6%. 

Data survei ini memberi gambaran yang utuh kepada kita sebagai warga asing di Taiwan. Nampaknya memang, dalam hal identitas kebangsaan, masyarakat Taiwan secara implisit menyampaikan bahwa Taiwan adalah bangsa yang secara identitas, berbeda dengan People Republic of China. Dalam bingkai ilmu politik, perbedaan identitas kebangsaan semacam ini, bisa dimaknai sebagai sebuah ikhtiar kebangsaan atau bahkan ijtihad hakiki tentang kedudukan Taiwan dalam politik internasional yang berdiri dalam posisi yang terpisah dengan “negara tetangga”. Masyarakat Taiwan, secara tidak langsung memahai dirinya sebagai sebuah manusia yang hidup dalam identitas kebangsaan yang berbeda dengan “negara tetangga” nya. Data survei yang menunjukkan 59.3% Taiwanese ini, juga bisa difahami bahwa potensi pembilahan sosial seperti dijelaskan oleh Clifford Geerts, memiliki makna bahwa secara kedudukan, Taiwan dan China adalah dua identitas yang independent satu dengan lainya.

Adanya pembilahan sosial ini juga bisa ditunjukkan dari bagaimana dinamika politik Taiwan saat ini sedang berlangsung. Ada dua kekuatan partai politik besar di Taiwan yang merepresentasikan identitas kebangsaan ini. Faktanya, kekuasaan politik saat ini dikelola oleh Democratic Progressive Party (民主進步黨), yakni partai politik yang saat ini memiliki suara mayoritas dan juga sebagai partai penguasa pemerintahan di Taiwan. Awal berdirinya partai ini atas dasar semangat independensi Taiwan sebagai sebuah negara yang berdaulat. Data survei menunjukkan bahwa, ada keterkaitan antara masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai Taiwanese untuk mendukung DPP, dalam kontestasi politik di Taiwan. Misalnya, Tahun 2012, data Election Studi Center, NCCU, menunjukkan bahwa 80% masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai Taiwanese akan memilih DPP dalam pemilihan umum di Taiwan. Data ini menunjukkan kepada kita bahwa nampaknya preferensi isu politik di Taiwan dalam hal identitas kebangsaan dapat kita fahami dengan mengetahui Partai apa yang berkuasa di waktu itu. Meminjam teori dari Michigan studies, dapat kita fahami bahwa pilihan politik suatu masyarakat bisa diukur dengan kondisi setiap orang yang memiliki kedekatan psikologis pada partai tersebut. Oleh sebab itu, tingginya perolehan suara yang diterima Democratic Progressive Party di Taiwan, memberikan pengenalan kepada kita sebagai pelajar Indonesia, bahwa mayoritas masyarakat Taiwan memang mengidentifikasi dirinya sebagai sebuah bangsa yang terpisah dan berbeda dengan bangsa China.

Secara umum, kita sebagai Pelajar Indonesia di Taiwan bisa mulai mengenal bahwa Pertama, nampaknya masyarakat Taiwan yang dalam data survei ini berjumlah 59.3% mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah bangsa yang independen. Kedua, sebagai identitas bangsa yang berbeda dengan bangsa China, kondisi ini memberikan implikasi bahwa memahami Taiwan sebagai sebuah negara yang terpisah juga menjadi bagian penting dari data survei yang dirilis oleh ESC NCCU ini. Ketiga, pada hakikatnya, Indonesia sebagai negara demokratis yang menganut faham politik bebas aktif, melihat data survei ini sebagai pijakan bahwa Indonesia harus memposisikan diri untuk tidak terlibat langsung dalam dinamika politik yang akan melibatkan kekuatan-kekuatan besar di dunia. Indonesia harus bersikap netral dalam memahami isu laut China selatan. Indonesia juga harus menghargai dan menghormati pilihan politik masyarakat Taiwan tentang identitas kebangsaan yang mereka pilih. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki tugas untuk menjaga stabilitas dan perdamaian dunia seperti yang termaktub dalam dasar konstitusi UUD 1945.

Pada akhirnya, bisa kita simpulkan bahwa saat ini mayoritas masyarakat Taiwan mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah bangsa yang berbeda dengan bangsa China. Dan kita, sebagai bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menghormati pilihan politik tersebut. Indonesia sebagai negara multikultur dan negara yang berdiri di atas keberagaman etnis, memiliki fondasi yang kuat bahwa “Mengenal Taiwan sekarang dan nanti” adalah perihal perkenalan kita tentang identitas kebangsaan Taiwan sebagai sebuah bangsa. Bahwa Taiwan memiliki hak untuk menentukan masa depanya. Bahwa Taiwan juga memiliki hak untuk melindungi prinsip demokrasi yang sudah lama mereka anut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share