Kajian Ramadhan Buruh Migran Indonesia di Keelung Taiwan

Share

Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Buruh Migran Indonesia (BMI)  yang berada di Keelung. Sorotan yang kami ajukan adalah tentang soal perijinan, hari libur dan soal andil pemerintah terhadap hari libur dan beberapa kebijakan.

Sebagaimana hari besar lain Ramadhan adalah bulan yang dinantikan oleh muslim di seluruh dunia. Di Indonesia Ramadhan akan dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti gunungan, silaturahmi bahkan sampai festival arak-arakan nabuh bedug seperti di Bandung dan Kudus. Saat lebaran tiba, akan ada tradisi mudik, yakni kembalinya orang-orang perantau ke kampung halaman. Mereka kembali dalam beberapa hari hanya untuk berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara.  Oleh karena itu, di Indonesia, lebaran adalah momen yang sangat dirindukan bagi umat muslim.

Namun akan berbeda ceritanya jika perantau melaksanakan lebaran di negeri orang. Seperti halnya Buruh Migran Indonesia (BMI) di Taiwan. Mereka tidak akan mudah untuk kembali begitu saja saat lebaran tiba. Berbagai pengurusan seperti dokumen ijin dari kedutaan dan ijin dari majikan harus disiapkan terlebih dahulu jika ingin mudik lebaran. Alhasil mereka yang tidak bisa melengkapi beberapa persyatan tersebut hanya akan berlebaran di negeri orang saja. Momen berlebaran di negeri orang sudah menjadi tradisi para pekerja migran Indonesia. Di Taiwan, lebaran tahun ini diadakan di Keelung, ialah daerah pantai yang berada di utara Taiwan.

Dalam wawancara di Keelung, ibu Rini mengatakan “Sangat berbeda puasa dan lebaran di Taiwan, terutama suasana dan berbagai hal yang bisa ditemukan di Indonesia tidak bisa ditemukan di Taiwan, seperti takjil di pinggir jalan, suara mengaji anak-anak di mushola atau bahkan sholat tarawih bersama di kampung”. Jawaban Rini merupakan ekspresi kerinduan terhadap suasana puasa dan lebaran di Indonesia, tentu saja di negara yang muslimnya sebagai minoritas, mereka merasakan betapa indahnya Indoensia dengan berbagai agama yang rukun dan stabil.

Selain itu, ada beberapa permasalahan yang membuat kami (pekerja) merasa seperti sangat jauh. Pertama, soal ijin libur yang kadang sudah ada tapi tidak diketahui majikan. Pada saat puasa, kami melakukan pekerjaan sesuai dengan waktu kerja biasa tanpa ada toleransi. Terutama menjaga lansia yang sudah lumpuh maka akan lebih siaga 24 jam. Waktu beribadah ataupun sholat hanya akan bisa dilakukan jika mendapat majikan yang baik atau memang sebuah keberuntungan tak terduga.

Sementara ini solusi terbaik hanya datang dari pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taiwan. Persoalan ijin dan beberapa hal yang terkait hanya bisa dilakukan dengan adanya bantuan dari perwakilan pemerintah Indonesia di Taiwan tersebut. Bahkan ketika melapor ke pihak agensi, persoalan perijinan akan dipersulit dan lama menanganinya. Selain itu, sulitnya dalam berbahasa mandarin menyulitkan mereka untuk melapor pada pihak kepolisian jika terjadi masalah dalam pekerjaannya.

Pada konteks kebaikan, lebaran di Indonesia menjadi pilihan terbaik untuk berkumpul dan menjalin kebersamaan dengan keluarga. Meski begitu, kondisi sulit yang dialami bangsa kita masih mejadi tantangan lain yang perlu kita benahi bersama, untuk menjaga kearifan budaya dan kemajemukan bangsa Indonesia. [Hns/Alv/Din/Red]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share