Akhir Pekan di Momentum Kebangkitan Nasional, Bahan Bakar Pergerakan PPI Taiwan

Share

Taipei  – Tanggal 20 Mei, sebuah tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di mana berdirinya Boedi Oetomo 109 tahun yang lalu,menurut Dirjen Kebudayaan Kemdikbud: Hilmar Farid saat berbincang dengan detikcom, adalah menjadi tonggak berdirinya sebuah tekad untuk memberikan pemicu kemunculan masyarakat terpelajar di Indonesia.

Semangat itulah yang seharusnya dimiliki oleh pemuda dan para pelajar Indonesia di manapun mereka berada. Baik yang sedang mengenyam bangku pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi, baik yang sedang menempuh studi di dalam maupun di luar negeri. Beranjak dari semangat yang serupa, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan (PPI Taiwan) memaknai Hari Kebangkitan Nasional dengan membangun chemistry dan kedekatan hubungan antara mahasiswa dengan pemerintah Indonesia, melalui Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei. Hari itu ada 9 orang perwakilan Badan Pengurus Harian (BPH) PPI Taiwan masa bakti 2017/2018 hadir di forum audiensi bersama KDEI Taipei, yang dihadiri langsung oleh Kepala KDEI: Robert James Bintaryo beserta dua orang jajarannya. Selain itu dalam forum tersebut hadir pula perwakilan Badan Musyawarah (Bamus) dan Badan Otonom PPI Taiwan: Majalah YinNi Hao, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan Universitas Terbuka Taiwan.

Forum audiensi kali ini memiliki dua agenda penting yang merupakan bagian dari program kerja PPI Taiwan 2017/2018. Yang pertama adalah program kerja Hubungan Eksternal besutan bidang Publikasi dan Jaringan Informasi, serta langkah awal dalam menjalankan program kerja Journal of Indonesian Labour Issues milik Tim Kajian BMI.

“Kalau kami bergerak sendiri ya jelas nggak bisa maksimal, kita perlu melakukan kolaborasi yang nyata bersama dengan kawan-kawan mahasiswa, melalui PPI Taiwan, untuk menyelesaikan segala permasalahan dan problematika yang sedang kita alami bersama, baik di bidang ekonomi, perdagangan, kebudayaan, pariwisata, dan tentunya juga pendidikan,” ujar Robert James Bintaryo, kepala KDEI di Taipei.
Di pertemuan ini PPI Taiwan dan KDEI menghasilkan beberapa hal untuk dicermati bersama, di antaranya:

  1. Sesuai dengan kutipan di atas, bahwa PPI Taiwan dan KDEI seharusnya melakukan kolaborasi dalam setiap program kerja yang dimiliki. Apalagi jika program kerja tersebut saling bersinggungan, semacam Indonesian Week besutan bidang Seni Budaya dan Kreativitas, yang sangat berdekatan dengan tujuan utama adanya KDEI di Taipei sebagai pelopor dalam brand image positif untuk Budaya dan Pariwisata Indonesia. Juga program-program kerja lainnya, yang berkaitan dengan pengabdian masyarakat juga Buruh Migran Indonesia.
  2. KDEI meminta bantuan kepada mahasiswa Indonesia di seluruh penjuru Taiwan agar selain melakukan promosi budaya Indonesia beserta pariwisatanya yang selama ini telah dilakukan dengan sangat baik, dapat diikuti juga dengan melakukan pengenalan terhadap produk-produk unggulan Indonesia yang bisa meninggikan daya tawar Indonesia di mata Internasional.
  3. KDEI menyambut positif dengan adanya Tim Kajian BMI yang dimiliki PPI Taiwan di kepengurusan kali ini, apalagi scoop-nya telah sangat jelas bahwa ranah mahasiswa akan menempati bidang survei data di lapangan, pengkajian, serta perumusan saran, laporan yang sistematis, serta rekomendasi yang dapat dijadikan acuan oleh pemerintah Indonesia dalam menangani permasalahan-permasalahan yang dialami Buruh Migran Indonesia.
  4. PPI Taiwan berkomitmen untuk melakukan kajian komprehensif terhadap permasalahan-permasalahan yang dialami mahasiswa Indonesia yang ada di Taiwan, untuk selanjutnya dapat dilaporkan dan dijadikan acuan/rujukan untuk merumuskan penyelesaian terbaik oleh KDEI, salah satunya saran untuk adanya pejabat bidang pendidikan. Komitmen tersebut diterima dengan tangan terbuka oleh KDEI, karena pada dasarnya penentuan kebijakan, pengadaan bidang, serta pelimpahan wewenang jabatan di dalam pemerintahan juga harus melibatkan kebutuhan dan kondisi realita di lapangan (dalam hal ini adalah kondisi mahasiswa Indonesia di Taiwan) serta mempertimbangkan kesepakatan antar-Kementerian yang memiliki kewenangan.
  5. Terakhir, KDEI juga berharap agar pembinaan keterampilan untuk BMI yang akan segera pulang ke Indonesia dapat melibatkan kawan-kawan PPI Taiwan, khususnya bidang Pengabdian Masyarakat dan juga Badan Otonom PKBM, yang memang memiliki arahan ranah kerja di bidang tersebut.

Tak lupa juga, PPI Taiwan meminta izin dan doa restu kepada KDEI untuk menghadiri Simposium Internasional 2017 di Warwick, UK bulan Juli 2017 nanti. Di mana dalam simposium tersebut PPI Taiwan akan melakukan sounding secara resmi bahwa Tim Kajian BMI PPI Taiwan siap untuk menjadi pelopor dalam upaya peningkatan kepekaan mahasiswa/pelajar Indonesia di seluruh dunia terhadap permasalahan-permasalahan yang dialami Buruh Migran Indonesia di luar negeri, serta ingin menggandeng Perhimpunan Pelajar dari berbagai negara lain untuk ikut bergabung di dalamnya.

PPI Taiwan bersama Kepala KDEI Taipei

Selain melakukan audiensi di tanggal 20 Mei, PPI Taiwan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan pergerakan di akhir pekan, beberapa perwakilan Tim Kajian BMI, Ketua Umum, beserta Sekretaris Jenderal melanjutkan agenda untuk mengunjungi Taman Baca TKI di Taipei Main Station pada tanggal 21 Mei 2017. Di sana PPI Taiwan memperkenalkan kepengurusan barunya kepada Buruh Migran Indonesia yang sedang berkumpul, serta sharing-sharing banyak hal seputar BMI bersama bunda Tantri dan kawan-kawan BMI yang sedang menikmati waktu libur mereka untuk membaca buku dan berbincang-bincang satu sama lain.

“Taman Baca ini sudah di sini selama 1 tahun, tapi untuk proses berdirinya sendiri dimulai empat tahun lalu,” ujar bunda Tantri. Bunda Tantri adalah BMI yang berdomisili di wilayah Keelung, beliau menyebut diri sebagai bunda dari seluruh BMI yang ada di Taiwan, yang tak lelah membantu para BMI yang memiliki permasalahan dan membutuhkan bantuan, serta rela melakukan apapun demi menciptakan citra positif BMI di Taiwan. Karena baginya menjadi BMI bukanlah sebuah hal yang rendah, yang sampai saat ini masih menjadi stigma negatif yang berkembang di masyarakat, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat Internasional.

“BMI adalah pekerjaan mulia yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup serta menambah pengalaman, sehingga nantinya ketika kembali ke Indonesia para BMI dapat memberikan kemanfaatan bagi daerah asalnya, juga negara Indonesia,” terangnya mantap.

PPI Taiwan bersama bunda Tantri

Bunda Tantri sangat senang jika ada mahasiswa/pelajar yang mau berkunjung dan mau memberikan wawasan kepada para BMI. Karena menurutnya hal tersebut adalah bantuan luar biasa, karena dengan melakukan hal tersebut, menunjukkan bahwa ternyata di tengah kesibukan menuntut ilmu, pelajar masih mau meluangkan waktu untuk bermanfaat bagi sekitarnya sebelum nantinya benar-benar terjun ke masyarakat setelah lulus. Jadi, siapkah kalian bergabung bersama PPI Taiwan untuk bergerak dalam atmosfer bersahabat dan bermanfaat?
(Ozh/Din/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share