“Kunjungan Wilayah” PPI Taiwan ke Tengah dan Selatan: Memperkuat Persahabatan, Menebar Kemanfaatan

Share

Taiwan (April 2017) – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan (PPI Taiwan) masa bakti 2017/2018  telah memulai geliat pergerakannya tepat dua minggu setelah serah terima jabatan berlangsung. Banyak PR (baca: pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan secepat kilat sebelum pelantikan pada 15 April 2017 dihelat. Salah satunya adalah titipan kepengurusan sebelumnya tentang penyusunan sistem yang konkret dan sistematis terkait pola hubungan hierarki antara PPI Taiwan dengan PPI Wilayah di Taiwan, serta PPI masing-masing kampus di seantero Taiwan.

Untuk itulah pada kesempatan libur Spring break kali ini, ketua umum PPI Taiwan, pak L. Tri Wijaya N. Kusuma beserta Sekretaris Jenderal, mas R. F. Hary Hernandha, melakukan short trip ke wilayah Tengah dan Selatan Taiwan untuk menjalin silaturrahim serta menjalankan amanah dari kepengurusan terdahulu tersebut. Sebelumnya kami review terlebih dahulu bahwa secara jelas tertulis di Anggaran Rumah Tangga PPI Taiwan bahwa:

Wilayah Utara meliputi seluruh perguruan tinggi yang berada di daerah Taipei, Keelung, Taoyuan, Yilan, Hualien, dan Taitung; wilayah Tengah meliputi seluruh perguruan tinggi yang berada di daerah Hsinchu, Miaoli, Taichung, Changhua, dan Nantou; dan wilayah Selatan meliputi seluruh perguruan tinggi yang berada di daerah Chiayi, Tainan, Kaohsiung, dan Pingtung.

Oleh karenanya perjalanan ke Tengah dan Selatan, yang pada kepengurusan sebelumnya jarang tersentuh secara langsung oleh PPI Taiwan, dimulai dari wilayah Hsinchu. Di Hsinchu, PPI Taiwan disambut hangat oleh mas Nyoto dan mas Ardian selaku representatif pengurus PPI Hsinchu. Sembari mendiskusikan banyak hal, kami juga diajak berkeliling kampus NCTU dan NTHU untuk melihat-lihat keadaan sekitar kampus. Setelah kami selesai berdiskusi, perjalanan segera kami lanjutkan ke tujuan wilayah Taichung. Akan tetapi karena di tengah jalan ternyata pihak PPI Asia University (yang kala itu menjadi tujuan utama kami ke sana) sedang berhalangan untuk ditemui, akhirnya perjalanan kami lanjutkan ke Tainan. Hari itu kami tiba di Tainan saat matahari sudah berada di ufuk barat, sehingga destinasi utama saat itu adalah mushalla milik NCKU. Alhamdulillah sambutan kawan-kawan PPI Tainan juga NCKU sangat amat baik dan terbuka. Bersama dengan pak Iqbal (ketua PPI Tainan), mas Adi, mas Adnan Kasofi, dan beberapa kawan-kawan lainnya kami mendiskusikan tentang kerjasama strategis PPI Taiwan dengan PPI wilayah Tainan. Salah satu dari kerjasama tersebut yaitu kami memberikan kesempatan PPI Tainan untuk menjadi supporting system utama dalam pelaksanaan Indonesian (Cultural) Week PPI Taiwan di penghujung 2017 mendatang. Gayung bersambut, ternyata pak Iqbal beserta kawan-kawan di Tainan menyanggupi permintaan kerjasama tersebut.

Masih dalam suasana spring break, keesokan harinya pak Tri dan mas Ozha melanjutkan perjalanan menuju Kaohsiung. Tepatnya saat itu pada hari Minggu, tanggal 2 April 2017, kereta yang kami tumpangi penuh sesak karena efek liburan musim semi. Setibanya di stasiun Kaohsiung kami bertemu dengan mas Abdul Rosyid (kepala bidang Pengabdian Masyarakat PPI Taiwan) yang memang rencananya bergabung di hari kunjungan kedua. Destinasi kami di Kaohsiung adalah NKUAS, bertemu dengan mas Jaka, mas Andi, dan juga mbak Riska selaku representatif dari PPI NKUAS, kami membicarakan banyak hal terkait keadaan mahasiswa Indonesia di kota paling selatan (sebelum Pingtung) Taiwan ini. Beruntung, hari ini ternyata bertepatan dengan jadwal rutin dibukanya perpustakaan berjalan milik PPI Kaohsiung di pelataran stasiun Kaohsiung. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan minat baca para Buruh Migran Indonesia yang ada di Kaohsiung dan sekitarnya.

Tak lupa di sore harinya kami menemui dan menyambung silaturrahim dengan pak Adhe Farid, selaku pengurus PPI Taiwan 2016/2017 yang berasal dari wilayah selatan. Juga berkunjung ke kediaman pak Sujito, ketua PPI Kaohsiung, yang berada tak jauh dari stasiun Kaohsiung. Obrolannya tak jauh berbeda dengan apa yang menjadi bahan diskusi kami di beberapa wilayah sebelumnya, yaitu tentang kondisi mahasiswa, juga pembahasan mengenai draft MoU antara PPI Taiwan-PPI wilayah-PPI kampus di Taiwan. Hanya satu hal yang berbeda, yaitu diskusi tentang Buruh Migran Indonesia, yang mempertemukan kami langsung dengan para BMI yang ada di sekitar Kaohsiung.

Dari Hsinchu, Tainan, hingga Kaohsiung, kurang lebih ada beberapa poin-poin yang berhasil dihimpun oleh PPI Taiwan:

  1. Kurangnya koordinasi yang jelas antara PPI pusat (Taiwan) dengan PPI wilayah maupun PPI kampus, terutama untuk wilayah tengah dan selatan, sejak beberapa tahun ke belakang. Sehingga kunjungan kali ini, beserta draft MoU yang digagas tahun ini dianggap menjadi angin segar bagi perbaikan komunikasi dan silaturrahim antar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan.
  2. Terdapat banyak sekali permasalahan mahasiswa Indonesia di wilayah-wilayah, juga kampus-kampus di Taiwan yang belum terdeteksi oleh PPI Taiwan. Contohnya adalah: tentang kondisi distribusi beasiswa mahasiswa yang terkadang tak sesuai dengan nominal yang ada di Scholarship Letter-nya, juga delay distribusi beasiswa dari kampus yang hingga mencapai hitungan lebih dari 2 bulan.
  3. Masih sering ditemui adanya jarak dan gap antara mahasiswa Indonesia yang dinaungi oleh PPI Taiwan dengan kawan-kawan Indonesian Overseas lain yang ada di Taiwan. Baik Perpita, HISA, TISA, dan juga organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia lainnya. Sehingga harapannya di kepengurusan ini sedikit demi sedikit harmonisasi hubungan dan silaturrahim dapat diperbaiki.
  4. Kerjasama berupa program kerja dan agenda PPI Taiwan ke depannya akan lebih sering lagi melibatkan kawan-kawan PPI di wilayah tengah dan selatan, sehingga tidak ada lagi kesan bahwa PPI Taiwan hanyalah milik mahasiswa Indonesia di wilayah utara.

Di hari ke-3 kami seharusnya sudah pulang kembali ke utara untuk mengakhiri short trip. Akan tetapi tanpa diduga, ternyata kami dihadapkan dengan sebuah tanggung jawab yang tak kalah penting, yaitu menjalankan fungsi sebagai pendukung utama pergerakan organisasi kemahasiswaan Indonesia di seluruh penjuru Taiwan. Oleh karenanya mas Abdul Rosyid, mas Ozha, dan juga mas Yusril (wakil Sekretaris Jenderal) harus singgah di Chiayi demi menampung aspirasi mahasiswa NCYU yang berinisiatif untuk mendirikan PPI di kampusnya. Karena rencana kunjungan di momentum spring break harus tetap berlangsung, maka kami bertiga yang menggantikan kehadiran pak Tri, di mana beliau pada hari ke-3 harus melanjutkan kunjungan ke kampus-kampus di wilayah utara. Di Chiayi kami mendapatkan sambutan baik oleh kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang ada di sana, bertemu dengan mbak Zazak, mbak Euis, mbak Risa, dan juga bang Jovan Sitinjak. Sharing di hari terakhir ini lebih menitikberatkan pada mekanisme pendirian PPI NCYU. Meski tetap saja kami tak meninggalkan tujuan utama untuk menyosialisasikan MoU yang sejak awal kami bawa.

Berikut beberapa dokumentasi yang dapat kami laporkan sebagai wujud transparansi dan profesionalisme yang kami bawa saat melakukan short trip ke wilayah Tengah dan Selatan.

Semoga dengan adanya upaya penyelarasan visi juga menyambung silaturrahim anatara PPI Taiwan dengan PPI wilayah dan kampus, dapat menjadi awalan yang baik menuju kinerja PPI Taiwan yang lebih “Bersahabat dan Bermanfaat”. (Ozh/Din/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share