Wajah Kerah Biru di Taiwan Refleksi Hari Buruh Indonesia di Mancanegara

Share

KBRN, Taiwan : Tanggal 1 Mei merupakan Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap tahun dan dikenal sebagai May Day. Sebagai momen pekerja untuk bersuara dan menuntut haknya.

Taiwan adalah negara dengan buruh Migran Indonesia cukup tinggi. Pada minggu lalu telah melakukan aksi long-march atau “jalan jauh” sebagai kegiatan yang melambangkan hari buruh se-dunia. Istilah “kerah biru” merupakan simbol dari pekerja imigran Asia-Tenggara (Indonesia, Vietnam, Filipina dan Thailand).

Penggunaan definisi kerah biru disematkan sebagai pekerja low-skill atau pekerja dengan kemampuan rendah. Sejak 1992 peluang bekerja di Taiwan sangat besar, hal tersebut di dukung oleh Kementrian Tenaga Kerja (Ministry of Labour) pada bidang sosial seperti, bekerja di pani jompo dan pasien dengan kebutuhan khusus. Berbeda dengan sector Industri yang kemudian merekrut secara besar besaran tenaga kerja dari kawasan Asia, perkembangan lebih banyak dilakukan Taiwan. Sebagai negara pengembang kebutuhan terhadap pekerja semakin diperbanyak.

Secara terang-terangan, pemerintah Taiwan memberikan izin perekrutan bidang Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT), industri pabrik dan industri perikanan. Indonesia dengan jumlah 251,103 termasuk penyumbang tenaga kerja terbesar dari, kemudian Vietnam dengan jumlah 188,585 jiwa, Filippina 139,972 jiwa, dan Thailand 59,625 jiwa. Pada umumnya mereka bekerja di sektor PLRT atau pekerja sektor domestic (domestic household workers) dan juga sektor informal yang meliputi perawat di panti jompo, orang berkebutuhan khusus (disabled-person) dan perawat anak/balita. Selebihnya mereka tersebar sebagai pembantu rumah tangga. Sebesar 75% PLRT dari total Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Taiwan.

Tahun 2007, PLRT merupakan yang paling rentan di exploitasi, dalam penelitian Lan. Ia menjelaskan ekspoitasi terjadi karena pekerja terikat dengan keluarga majikan sehari-hari, sehingga ia tidak mendapatkan pengawasan dari pemerintah secara eksternal. Menyatunya pekerja di Taiwan tentu saja dilatarbelakangi oleh kondisi yang sama, menuntut hak kerja, persoalan birokrasi dan system kerja. Maka muncullah berbagai persatuan atau serikat buruh migran di Taiwan. Seperti MENT (Migrant Empowerment Network in Taiwan), TIWA (Taiwan International Workers Association), IPIT (Ikatan Pekerja Indonesia di Taiwan), ATKI (Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia), KaSaPi (Kapulungan ng Samahang Pilipino).

Persatuan pekerja pada “May Day” lalu di Taiwan sempat melakukan aksi Long-March atau dikenal dengan perjalanan serentak. Aksi tersebut merupakan bentu demonstrasi pekerja untuk memperjuangkan haknya sebagai pekerja. Persoalan yang menjadi isu mereka di Taiwan adalah; Penghapusan system agensi swasta, Hak pindah majikan secara bebas dan penegasan hukum PLRT untuk mendapatkan istirahat sementara.Tiga poin yang menjadi bahan exploitasi tersebut merupakan isu yang dibawa oleh persatuan buruh migran se-Taiwan.

Tahun lalu, kegiatan serupa yang diadakan telah membuahkan hasil, pemerintah Taiwan akhirnya menghapuskan system pemulangan setelah 3 Tahun. Setelah disetujui pemerintah Taiwan dampaknya sangat besar bagi kesejahteraan buruh migran Asia.

Persoalan sebelumnya adalah, adanya agen swasta dengan system yang berani bermain curang, kemudian menyebabkan kesejahteraan pekerja terabaikan. Maka penghapusan sistem agen swasta adalah perlu, khusunya sebagai masukan bagi pemerintah Indonesia yang secara tegas harus dibenahi dan disamakan agar mendapatkan keseimbangan. Kemudian, kemampuan bagi pekerja harus diasah agar tidak berada dalam kategori low-skill.

Kesatuan antara pemerintah Indonesia dan para pekerja yang akan merantau merupakan kesepakatan bersama yang harus dipenuhi, kuncinya adalah pendidikan. Kemampuan meningkatkan skill adalah sebuah pendidikan, agar dikemudian hari tidak mengalami kesenjangan antara satu orang dan masyarakat Indonesia. (Jon/Far/DSy/AA)

Sumber: http://rri.co.id/post/berita/389827/feature/wajah_kerah_biru_di_taiwan_refleksi_hari_buruh_indonesia_di_mancanegara.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share
Share