Lomba Menulis Kisah Inspiratif “Menuntut Ilmu di Bumi Formosa” 2015

Hi sobat PPI Taiwan, Kamu punya kisah inspiratif, cerita gokil, atau pengalaman yang tak terlupakan selama belajar di Taiwan? Jangan hanya disimpan sendiri. Yuk, bagikan kepada sobat-sobat muda Indonesia lainnya. Agar lebih More »

mobile ppi

Database Pelajar Indonesia

  Apa kabarnya teman-teman PPI Taiwan ??Dalam rangka pendataan pelajar baik aktif maupun alumni, kami akan menghadirkan sebuah aplikasi berbasis mobile untuk Database pelajar Indonesia.Untuk sementara, mohon kesediaannya untuk mengisi data pelajar More »

kaos

Pre-Order Polo Shirt PPI Taiwan

    Pre-Order Polo Shirt PPI Taiwan Penawaran bagi teman-teman pelajar Indonesia untuk memesan polo shirt PPI Taiwan. Yang berminat, dapat mengisi form pemesanan pada link: http://goo.gl/forms/Kyul5EXSdL Harga: NTD 250/pcs Proses produksi More »

IB3 edit

Indonesian Booster III

Kisah Karya-Karya Ilmiah Buntora yang Mengagumkan *For English, please scroll down* Belajar di luar negeri adalah impian banyak anak muda Indonesia. Sebagian sudah ada yang mewujudkannya, baik dengan dana pribadi maupun dengan More »

ippho6 edit

Bincang Indonesia

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan (Indonesian Student Association in Taiwan – 台灣印尼學生聯合會) held the event called Bincang Indonesia (Talking about Indonenesia) with special guest Ippho Santosa, an Indonesian famous motivational speaker and More »

Mencari Ruang Hangat di Bumi Formosa

Oleh Alan Saputra

Langit mulai gelap di Kota Palembang didiringi dengan terdengarnya suara adzan yang berkumandang dari segala penjuru kota. Seorang pemuda sedang asyik berselancar internet di front office salah satu lembaga pendidikan di kota Pempek. Saya segera menghampiri dan mengajaknya untuk bersiap-siap menuju masjid terdekat. Sahabat saya itu langsung menutup satu demi satu jendela yang dibuka di search engine. Saya melihat email saya belum di log out, sehingga saya terpaksa harus mengecek email terlebih dahulu. Setelah melihat kotak masuk, saya langsung mengucap syukur karena dinyatakan “LULUS” seleksi beasiswa Bahasa Mandarin di Taiwan. Sebuah nikmat dan karunia Tuhan yang luar biasa di penghujung bulan Mei 2015.

Perasaan senang dan haru menyelemuti saya saat itu. Sungguh tidak disangka, saya mendaftar di hari terakhir dan sedikit kurang percaya diri dengan dokumen-dokumen yang saya kirimkan kepada TETO (Kantor Dagang dan Ekonomi Taiwan di Indonesia). Keesokan harinya saya langsung mempersiapkan dokumen-dokumen apa saja yang harus dilengkapi untuk administrasi keberangkatan ke Taiwan. Akan tetapi proses tersebut tidak berjalan dengan lancar. Kendala jarak dan biaya membuat saya sedikit khawatir dan kurang bersemangat untuk melengkapi berbagai syarat untuk keberangkatan. Dari belasan penerima Beasiswa Bahasa Mandarin di Taiwan, hanya saya yang berada di luar Pulau Jawa. Ditambah lagi persyaratan dari Universitas di Taiwan yang memperkenankan setiap calon mahasiswa untuk memiliki tabungan minimal 2000 US$.

Teringat dengan sebuah pepatah yang berbunyi “Jangan gugur sebelum berperang” membuat saya bangkit dan mencari solusi. Dengan berkonsultasi kepada dosen dan keluarga, mereka memberikan suport yang besar. Bahkan tetangga juga demikian bersedia meminjamkan uangnya untuk segala proses keberangkatan ke Taiwan. Namun, tidak ada yang bisa memberikan pinjaman sebesar 2000 US$. Dengan rasa percaya diri, saya mendaftar ke Chinese Language Education Centre National Taipei University of Education untuk mendapatkan LoA (Letter of Admission) yang merupakan syarat utama untuk berangkat ke Taiwan. Dengan mengucap syukur, satu minggu kemudian LoA saya terima.

Perjalanan untuk berangkat ke Taiwan masih banyak rintangan yang harus saya hadapi. Berangkat ke Jakarta dengan tabungan hasil mengajar selama beberapa bulan untuk mengesahkan dokumen di Kementrian Hukum dan HAM serta Kementerian Luar Negeri. Sungguh beruntung bagi saya memiliki teman yang baik di Jakarta dan Depok, mereka mempersilahkan saya untuk tinggal di kediamannya. Sekali lagi sangat beruntung, setelah sampai di Jakarta saya tidak perlu melegalisir dokumen. TETO mengeluarkan peraturan baru yang menyatakan pengesahan dokumen atau legalisir tidak diperlukan lagi.Saya segera bergegas mempersiapkan segalanya untuk mendapatkan Visa ke Taiwan.

Satu hari sebelum berangkat ke Taiwan, hati dan fikiran masih belum tenang. Hal ini karena saya belum ada kepastian mengenai tempat tinggal jika sudah sampai di Taipei. Tiba-tiba salah satu tetangga saya bertanya mengenai tempat tinggal disana, saya segera menjawab dengan penuh harapan jika saya belum ada kepastian mengenai hal tersebut. Dengan sigap tetangga saya menghubungi saudaranya yang pernah bekerja di Taiwan. Tuhan memang sangat sayang kepada hambanya, saat itu juga saya diberikan kontak dan alamat untuk sementara tinggal di rumah saudara dari tetangga saya yang baik itu. Keesokan harinya langit begitu cerah di Bumi Sriwijaya, langkah ini begitu semangat untuk menuju Bumi Formosa. Cuaca saat itu begitu hangat dan suasana haru menyelimuti keberangkatan saya untuk menimba ilmu. Keluarga selalu mengingatkan agar selalu berbuat baik di negeri orang. Langkah ini terasa berat menuju pesawat, karena baru pertama kalinya pergi meninggalkan rumah untuk waktu yang cukup lama.

Dengan menempuh waktu perjalanan selama dua belas jam, saya sampai di Bandara Taoyuan, Taiwan. Dengan bekal bahasa mandarin yang masih minim saya bertanya ke petugas bandara mengenai bus yang menuju Taipei Main Station. Tiket saya beli dan berangkat. Sesampainya di stasiun, saya baru sadar jika handphone saya sudah tidak menyala. Untung saja saya masih pakai cara kuno, mencatat nomor Handphone di kertas kecil. Dengan telpon umum saya memberi kabar jika saya sudah tiba di Tapei.

Taksi saya pesan dan sampai di rumah saudara tetangga saya. Beliau menyambut saya dengan ramah, tanpa rasa kaku memperlakukan saya seperti keponakannya, maka dengan spontan saya panggil beliau “Bu’ De”. Namun, ada hal yang membuat saya merasa tidak enak, Bu’ De  menjelaskan jika rumah ini adalah rumah sang majikan serta tidak meminta izin jika saya akan tinggal sementara disini. Jangan sampai hal ini diketahui oleh majikannya. Saya dipersilahkan untuk tidur di Sofa karena tidak ada kamar kosong lagi, sudah tentu hal itu bukan masalah bagi saya. Masih untung dapat tempat tinggal sementara. Ada beberapa hal yang harus saya patuhi selama tinggal disini. Pertama, jangan pernah keluar melalui pintu depan rumah. Kedua, jika ingin pergi ke kampus harus di pagi hari dan pulang pukul sepuluh malam, maka saya harus makan siang di luar rumah. Ketiga, jika majikan datang ke rumah ini saya harus bersembunyi. Namun, semua hal itu semata-mata untuk kebaikan saya.

Hari Senin, 24 Agustus 2015 saya bergegas berangkat ke kampus untuk registrasi sekaligus bertanya mengenai tempat tinggal. Ternyata, pihak kampus tidak memperkenankan mahasiswa yang belajar bahasa mandarin untuk tinggal di asrama kampus. Hal itu bukanlah masalah besar bagi saya pada saat itu. Dengan senang hati saya berbagi cerita dengan teman-teman sesama penerima beasiswa bahasa mandarin. Tiba-tiba salah satu dari teman saya menjelaskan jika ingin  menyewa tempat tinggal di Taipei biasanya harus bayar uang jaminan sebesar dua bulan dari harga sewanya. Saya baru sadar ternyata uang saya tidak cukup untuk membayar sewa kamar yang paling murah di Taipei plus uang jaminannya. Namun, saya terus berusaha mencari informasi untuk mendapatkan “Ruang Hangat” yang murah. Sebuah tempat yang bisa melindungi saya dari udara dingin ketika musim dingin tiba di Bumi Formosa. Sebab itulah saya beri nama “Ruang Hangat”.

Ada pesan di Sosial Media dari Ketua PPI Taiwan. Saya sangat senang, semoga bisa mendapatkan banyak informasi dari beliau. Ternyata benar, beliau membantu saya untuk menemukan tempat tinggal dengan harga sewa yang sangat miring. Akan tetapi semuanya masih belum sesuai dengan uang yang saya miliki saat itu. “Apakah ada yang tanpa uang jaminan?” jawabannya  sudah tentu tidak ada. Kecuali, jika ada orang yang dengan senang hati bisa diajak untuk join alias patungan. Nah, itulah target saya sekarang mencari room mate di Taipei. Dengan keadaan yang cukup letih dan malam yang sudah larut saya pulang ke rumah majikan Bu’ De. Baru saja mau mandi, tiba-tiba majikan Bu’ De datang untuk melihat Anjing kesayangannya yang dirawat oleh Bu’ De. Dengan sigap saya bersembunyi di bawah ranjang kamar Bu’ De. Hal seperti berlanjut sampai tiga kali. Hingga akhirnya saya berusaha untuk mencari informasi sekalian beribadah di Taipei Grand Mosque. Di Masjid ini banyak orang jemaahnya orang Indonesia terutama pelajar yang kuliah di Taipei dan sekitarnya.

“Assalamu’alaikum” ucap salah seorang jama’ah dari Pakistan. Saya menjawab salam kemudian kami memperkenalkan diri dan bercerita satu sama lain. Begitu beliau bertanya mengenai tempat tinggal langsung menjawab belum ada tempat tinggal. Beliau tidak bertanya kepada saya mengenai tujuan kedatangan saya datang ke Taiwan. Beliau mengira jika saya adalah Buruh Migrant Indonesia yang masuk secara ilegal. Akhirnya beliau menelpon salah satu anggota SATGAS yang bertugas mengatasi masalah Buruh Migrant Indonesia di Taiwan. Dengan menggunakan taksi sang anggota SATGAS itu tiba di Masjid dan langsung mengajak saya berbincang-bincang. “Oh, ternyata kamu ini mahasiswa, saya kira TKI yang bermasalah”. Dengan sopan saya menyapa beliau dengan panggilan “Bapak”. Hari itu tidak ada yang sia-sia, saya mendapatkan kontak warga Indonesia yang memiliki Yayasan Pendidikan di Taiwan. Dengan penuh harapan saya segera menghubunginya.

Dua hari kemudian, kami bertemu dan ada kesepakatan. Saya diperkenankan untuk tinggal bersamanya dengan sebuah catatan saya harus turut mengabdi di bidang pendidikan. Tentu saja hal itu bukan sebuah beban bagi saya, karena saya memang seorang guru. Setibanya di “Rumah Hangat” saya langsung dijamu makan siang bersama. “Mulai besok, kamu sudah bisa tinggal disini”. Mendengar kabar tersebut saya sungguh bahagia, setelah sepuluh hari mencari akhirnya saya temukan juga “Rumah Hangat”.

Ternyata “Rumah Hangat” bukan sekedar istilah, akan tetapi suasana yang memang benar terjadi. Tempat tinggal saya ternyata salah satu pusat pendidikan bagi Buruh Migrant Indonesia di Taiwan. Setiap hari minggu tempat ini disulap menjadi “Ruang Kelas” dan saya turut berpartisipasi sebagai relawan yang mengajar Bahasa Mandarin. Ilmu akan mudah difahami jika kita terus belajar dan mengajarkannya kepada orang lain. Prinsip saya mengajar bukanlah uang akan tetapi panggilan hati untuk mencerdaskan bangsa dimanapun berada. Semoga tempat tinggal saya ini terus menerus menjadi “Ruang Hangat” bagi saya dan para Buruh Migran Indonesia yang terus bekerja sambil belajar di Bumi Formosa. Jiayou……

***

Alan Saputra adalah salah satu penulis naskah terbaik dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif selama Belajar di Taiwan yang diselenggarakan oleh PPI Taiwan tahun 2015. Pemuda yang memiliki hobi membaca dan menonton film sejarah ini perupakan penerima beasiswa Huayu Enrichment Scholarship. Saat ini ia sedang menempuh studi di National Taipei University of Education.

Teh Gang FORMOSA (FOR MemOrable Study Abroad)

Oleh Yogi Tri Prasetyo

          Pembaca, anggaplah bahwa saat ini Anda sedang berada di kedai teh Gang Formosa. Ya, kisah perjalanan saya menuntut ilmu di negeri Formosa ibarat kisah seseorang yang hendak mencari kenikmatan minum teh di sore hari.

Ambil secangkir gelas dan sendok  

Apa yang sedang kamu pikirkan, Yogi?”

                                                                                                                        “Mimpi, Bu

            Semua berawal dari sebuah mimpi. Sesuatu yang besar dimulai dari sebuah mimpi yang sudah kita rencanakan dalam benak kita sebelumnya. “Jika ada kemauan, di situ ada jalan.” Belajar di luar negeri sambil berpetualang adalah salah satu impian saya sejak SMA. Saya membayangkan diri saya berada dalam satu ruang yang berbeda, menembus segala batas kemampuan diri, dan berbagi teh yang saya nikmati untuk negeri tercinta, Indonesia.

            Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S-3 di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), jurusan Industrial Management dengan konsentrasi faktor manusia dalam rekayasa desain. Ada beberapa alasan mengapa saya memilih NTUST sebagai tempat untuk menyeduh teh. Pertama, Industrial Management di NTUST adalah Industrial Management terbaik se-Taiwan (Sumber: Eduniversal 2014). Kedua, kampus yang terletak di pusat kota Taipei ini memiliki banyak mata kuliah dalam Bahasa Inggris. Setiap semester, lebih dari 150 mata kuliah engineering dibuka dalam Bahasa Inggris sehingga mahasiswa asing bisa memilih mata kuliah yang diminati tanpa terkendala bahasa. Terlebih lagi, banyaknya guru besar yang sudah ternama dikalangan akademik dan didukung oleh kelengkapan buku, jurnal, hingga akses ke berbagai perpustakaan di Taiwan akan sangat mendukung studi saya di sini.

Pergilah ke Eropa atau Amerika

                                                                                                                        “Kenapa, Mbak?”

            Pertanyaan itulah yang selalu muncul ketika saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Taiwan. Kebanyakan orang Indonesia mempunyai mindstream untuk kuliah di Eropa atau Amerika. Ketika saya tanya kenapa, hanya ada satu jawabannya “Enak, jauh, nanti bisa keliling – keliling ke negara lainnya”, sementara yang lain berkata “Kalau kuliah di Asia, ke Jepang saja”. Namun, apakah kita lupa bahwa tujuan utama kuliah di luar negeri adalah untuk belajar. Melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya adalah sebuah proses kesinambungan antara ilmu yang sudah kita peroleh pada saat sarjana, sehingga kita bisa memahami bidang ilmu keahlian lebih dalam dari sebelumnya. Tidak hanya itu, ilmu ini juga harus bisa kita bawa kembali pada masyarakat agar kelak akan ada orang lain yang terus melanjutkannya.

Banyak orang yang lebih mengorbankan bidang spesifik ilmu yang diminati saat menempuh pendidikan S-1 dan melanjutkan ke bidang ilmu lainnya hanya karena diterima di perguruan tinggi di negara yang diminati. Tidak jarang juga yang rela menganti jurusan ataupun bidang minat yang berbeda total dari sebelumnya. Bagi saya, menentukan tempat belajar di luar negeri yang terpenting adalah kesinambungan minat spesifik ilmu, kualitas riset dan publikasi pembimbing, ketersediaan mata kuliah sesuai bidang minat yang diajarkan dalam Bahasa Inggris, serta lingkungan belajar yang kondusif. Pada akhirnya ilmu yang kita timba ini harus dikembalikan ke masyarakat melalui publikasi ilmiah, sedangkan Taiwan adalah salah satu negara yang terus menghasilkan karya – karya ilmiah dalam jurnal papan atas sehingga tidak kalah kualitasnya dengan perguruan tinggi di negara maju lainnya. Terlebih lagi, PhD di Taiwan mensyaratkan 2 publikasi ilmiah dalam jurnal SCI sebagai dasar kelulusan yang membuat kualitas lulusan Taiwan mampu bersaing dengan negara maju lainnya.

Masukkan gula dan teh

Begitu tempat menyeduh teh sudah saya impikan, langkah selanjutnya adalah mencari beasiswa. NTUST menyediakan beasiswa penuh yang meliputi uang kuliah beserta uang saku setiap bulan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Akhirnya saya beranikan diri untuk mengirimkan berkas – berkas saya melalui kantor pos di Perpustakaan Universitas Indonesia yang meliputi transkrip, TOEFL-iBT, 2 surat rekomendasi, Curriculum Vitae, dan study plan. Sebulan berikutnya, saya mendapatkan kabar bahwa saya berhasil diterima S-2 dengan beasiswa penuh dan akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan studi di NTUST.

Tuangkan air panas

            Aroma teh Gang Formosa sangat menggairahkan. Tiba – tiba saja saya sudah berada di Taoyuan International Airport. “Aw…. panas” (cipratan air panas dari cangkir teh mengenai tangan saya). Perjalanan studi saya tidak semulus yang dikira. Saya hampir dideportase karena masalah visa visitor. Saat saya mengurus dokumen ke Taipei Trade Office (TETO) di Jakarta, saya belum mendapatkan ijazah asli S-1 dari kampus saya karena masih memakan waktu sekitar 1 bulan setelah wisuda. Saat itu, TETO tidak bisa memberikan visa resident bagi mahasiswa yang hanya mendapatkan Surat Kelulusan Sementara (SKL) sehingga saya hanya mendapatkan visa visitor yang hanya berlaku selama 60 hari. Jadi dalam waktu 60 hari, saya harus bisa mengubah visa visitor menjadi visa resident agar bisa mendapatkan Alien Residence Card (ARC) yang kelak menjadi persyaratan pencairan beasiswa.

                        “Jangan menangis, pasti ada jalan untuk orang yang mau menuntut ilmu

                                                                                                                        “Yogi akan dideportase, Pak!”

            Pembaca, bayangkan jika Anda berada dalam posisi saya, dimana setiap malam denyut nadi berdegup kencang membayangkan saya ditangkap polisi, dipenjara, dan dideportase. Air mata ini terus mengalir ketika membayangkan itu semua. Proses legalisasi ijazah juga tidak mudah. Orang tua saya harus mengurus dokumen ke Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, kemudian ke Kementrian Luar Negeri, hingga ke TETO yang juga memakan waktu sekitar 3 minggu. 1 minggu sebelum masa visa visitor saya habis, saya berhasil mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan visa residence dan berhak mendapatkan ARC.

“Saya suka bulu dada”

“Yogi, 昨天你去哪裡?”             (Yogi, kemarin kamu pergi kemana?),

我去台北動物園”                     (Saya pergi ke Kebun Binatang Taipei).

你喜歡什麼動物?”                   (Kamu suka hewan apa?”)

我很喜歡胸毛”                         (Saya suka bulu dada)

Bahasa Mandarin merupakan bahasa yang sangat unik. Jika intonasi yang kita ucapkan berbeda, maka bisa berubah menjadi arti yang sangat berbeda. Dalam percakapan di atas, seharusnya saya mengucapkan “Xióngmāoyang artinya adalah panda. Namun, saya mengucapkan dengan intonasi yang berbeda “Xiōngmáoyang artinya adalah bulu dada. Bulu dada inilah yang membuat saya terpacu untuk terus mengasah kemampuan Bahasa Mandarin.

世上無難事,只怕有心人 (Tidak ada sesuatu yang susah untuk orang yang mau berusaha). Saya tidak bisa berbahasa Mandarin saat pertama kali datang ke Taiwan. Saya juga berasal dari keluarga Jawa sehingga tidak pernah sekalipun menggunakan Bahasa Mandarin di rumah. Namun, saya percaya bahwa jika ada kemauan yang keras, suatu hari saya akan bisa berbahasa Mandarin. Dalam satu semester, saya mengikuti 2 kelas Bahasa Mandarin yang diajarkan secara gratis di NTUST. Saya juga mengikuti kelas gratis yang ditawarkan oleh Chinese Culture University (CCU) setiap hari Minggu. Perlahan namun pasti, kemampuan Bahasa Mandarin saya mulai meningkat. Setelah kurang lebih 1.5 tahun belajar Bahasa Mandarin, saya mulai bisa memahami Bahasa Mandarin dan memberanikan diri untuk mengikuti lomba pidato yang diadakan oleh Rotary Club of Taipei. Bukan sesuatu yang mudah berhadapan dengan banyak orang, menghafalkan teks, dan bersaing dengan peserta lain yang sudah belajar Bahasa Mandarin jauh lebih lama. Namun, saya percaya bahwa ini adalah kesempatan untuk melihat sejauh mana saya bisa mengaplikasikan teh yang saya seduh sejauh ini. Menang kalah bukan yang terpenting, tetapi keberanian untuk menghadapi tantangan adalah salah satu hal yang sayang untuk dilewatkan.

                        “Juara 3? Selamat ya Nak!

                                                                                                            “Terima kasih, Bu! Ini hadiah untuk Ibu”

Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Mandarin (Rotary Club of Taipei, 2014)

Cicipi perlahan – lahan

            “Bismillah………” “Srrrrrrp” “Ahhh………….” Panasnya teh sedikit membakar mulut. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk masuk dalam lingkungan baru, suasana baru, bahasa baru. Namun, buat apa kita takut untuk menyelam lebih dalam dan membaur dengan orang Taiwan yang terkenal sangat ramah. Di NTUST, saya tergabung dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler, diantaranya Model United Nations (MUN) sebagai deputy director of academic, Toastmasters sebagai vice president of public relations, Wind Band sebagai pemain flute, Chinese Orchestra sebagai pemain seruling China, Water Activity sebagai life guard, dan NTU Taekwondo sebagai anggota sabuk hitam Dan 1. Dalam bidang pengabdian, saya juga menjadi asisten dosen di Pusat Bahasa NTUST serta mengajar Bahasa Mandarin untuk WNI yang sedang belajar di SD belakang kampus. Cicipi saja tehnya perlahan – lahan dan rasakan sensasinya yang membuat pandangan Anda tentang Taiwan jauh lebih dalam. Saya percaya dengan disiplin waktu, saya akan tetap bisa fokus dalam akademik dan kegiatan non-akademik.

            “Belajar di luar negeri, bukan hanya sekedar belajar”. Seperti halnya dengan minum teh di kedai teh Gang Formosa. Tidak seru jika tidak bersenda gurau dengan para pencicip teh lainnya. Tidak lupa juga untuk memperkenalkan budaya Indonesia pada masyarakat Taiwan melalui berbagai kegiatan seperti Indonesian Culture Exhibition di NTUST, pentas menari Remo dalam beberapa acara, serta aktif bertukar pikiran dengan orang Taiwan dan berbagai mahasiswa dari belahan dunia lain. Perlahan namun pasti, teh Formosa ini semakin nikmat untuk diseduh dan semakin menggoda untuk dibagi ke para penikmat teh lainnya.

 

Delegasi NTUST di Taipei Model United Nations 2014

 

Indonesian Culture Exhibition 2014 – Ramayana

NTUST Life Guard di Lóngdòng

Konser NTUST Wind Band – Reborn

 

Latihan Dizi NTUST Chinese Orchestra

 

Wisata bersama Association of International Affairs NTUST

 

 

Nikmati asam manisnya

Saat ini hidup saya di Taiwan sangat luar biasa. Saya dikelilingi teman – teman terbaik sesama perantau, kehangatan orang Taiwan, serta berbagai mahasiswa asing yang juga belajar di Taiwan. Memutuskan tempat tujuan hidup adalah penting, tetapi lebih penting siapa yang ada di sekeliling Anda, karena merekalah orang yang terus menjadi candu untuk terus maju.

Ikutlah NTUST Outstanding Youth! Jadilah Mapres!”

                                                                                                                                    “Apakah Yogi bisa?”

Jika kita pikir kita bisa, maka kita akan bisa melakukannya. Tidak ada sesuatu yang mustahil jika kita mau berusaha. Mahasiswa Berprestasi (Mapres) NTUST adalah sebuah ajang kompetisi yang diikuti oleh mahasiswa – mahasiswa terbaik di kampus. Seleksi mulai dari tingkat jurusan, fakultas, hingga universitas. Ada yang menginginkannya karena kemudahan untuk berkarir, ada pula yang ingin menguji adrenalin. Bagi saya, ini adalah sebuah tempat yang pas untuk berbagi teh. Jika semua sertifikat akan menjadi bungkus kacang, lalu kenapa hanya dimakan sendiri, sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna. Maka saya putuskan untuk ikut Mapres NTUST mewakili pelajar Indonesia.

            Berkas yang meliputi formulir, foto kopi sertifikat, foto bukti kegiatan, serta CV berserakan di kamar. Saya baru menyiapkan semua berkas sehari sebelum tanggal pengumpulan berakhir. 2 minggu kemudian, saya mendapatkan e-mail bahwa saya masuk dalam jajaran finalis tingkat fakultas dan akan diadakan seleksi wawancara selama 7 menit dengan petinggi fakultas. “Silakan memperkenalkan diri Anda, oh… dalam Bahasa Mandarin”. Pertanyaan itu sempat membuat urat nadi saya putus. Namun, entah bagaimana saya akhirnya menjawab semua pertanyaan dari dewan juri dalam Bahasa Mandarin walaupun sangat belepotan. Asalkan pendengar bisa memahami apa yang kita bicarakan saya rasa lebih dari sekedar cukup. Keesokan harinya saya mendapatkan e-mail dan berhasil lolos ke tingkat selanjutnya. Beserta 4 kandidat lainnya, saya harus mewakili fakultas dalam pemilihan tingkat universitas.

            Tahap universitas terbagi menjadi 2 sesi, yakni sesi wawancara dari alumni NTUST serta dari petinggi NTUST. Saya beserta 25 mahasiswa lainnya berkumpul dalam satu ruangan menunggu giliran wawancara. Di sini saya melihat peserta lain juga sangat tegang sambil sesekali melihat kertas jawaban yang telah mereka siapkan sebelumnya. Tibalah giliran saya. “Apa pengabdian Anda pada NTUST?”, itu adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh juri. Sambil tersenyum, saya mulai menjawab dengan tenang. Keesokan harinya, terpampang foto saya dalam jajaran pemenang Mapres NTUST 2015. “Saya persembahkan untuk Indonesia!”

Mahasiswa Berprestasi NTUST 2015

Sangat tidak masuk akal bahwa saya, seorang mahasiswa yang hampir dideportase, seorang yang terpacu karena bulu dada, yang akhirnya bisa meneguk teh Gang Formosa bersama Mapres NTUST lainnya di podium. Jika saya pasrah untuk dideportase, menyerah belajar Bahasa Mandarin, ataupun berhenti menyuguhkan teh kepada orang lain melalui berbagai kegiatan, maka semua itu tidak akan pernah terjadi. Cara membaca kesempatan, kemauan untuk mencoba, dan keberanian menghadapi tantangan adalah kenikmatan teh Formosa yang paling spesial. Mari kita menyeduh teh FORMOSA bersama. FOR MemOrable Study Abroad. Itulah sepenggal kisah singkat saya di kedai teh Gang Formosa. Bagaimana dengan teh Anda?

 


***

Yogi Tri Prasetyo adalah salah satu penulis naskah terbaik dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif selama Belajar di Taiwan yang diselenggarakan oleh PPI Taiwan tahun 2015.

Mahasiswa program Doctoral di National Taiwan University of Science and Technology angkatan tahun 2015 ini merupakan mahasiswa berprestasi. Ia pernah dinobatkan sebagai Young Ambassador of Indonesia oleh Ministry of Foreign Affairs tahun 2008. Terakhir, pada tahun 2015 ia dinobatkan sebagai Outstanding Youth oleh almamaternya, NTUST.

Nilai 2 dan Mimpi yang Semakin Nyata

Oleh Damiana Simanjuntak

 

Mimpi itu milik siapa saja. Tidak peduli kau miskin, bodoh, jelek atau apa pun. Bermimpilah, mimpi yang besar, meski itu terlihat mustahil. Bermimpi tidak bayar kok. Aku mempunyai mimpi masa kecil. Mimpi untuk kuliah, sekolah setinggi-tingginya. Hanya itu.  Ah, itu sudah biasa bagi sebagian orang. Kuliah tidak ada istimewanya. Tapi bagi orang miskin seperti aku ini, kuliah  itu sesuatu yang mustahil. Aku lahir di desa terpencil yang belum dialiri listrik, desa yang hanya bisa dijangkau dengan alat transportasi kuda. Di sekolahku saat itu, SDN 173619 Panamparan, hanya ada satu orang guru honorer. Kami membayar honornya dengan beras, tiap-tiap siswa membawa 1 liter beras ke sekolah tiap bulan. Aku tamat dari SD ini hanya dengan bekal kemampuan baca dan tulis, sedikit berhitung. Aku sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, yang kutahu hanya bahasa daerah.

Tahun 2009 mimpi masa kecilku itu tercapai. Aku bisa kuliah di universitas terbaik di Sumatra Utara. Menjalaninya dengan penuh kerja keras, memperjuangkannya dengan susah payah, dan nyelesaikannya dengan sempurna. Ternyata mimpi itu melahirkan mimpi baru, mimpi yang hingga kini masih kugenggam erat. Setelah tamat kuliah S1, aku sempat bekerja selama satu tahun. Mimpi itu tidak pernah hilang, selalu mengetuk-ketuk kepalaku dari dalam. Selama bekerja, aku menyempatkan diri untuk mengikuti les Bahasa Inggris. Sesungguhnya aku sangat lemot (benci) belajar Bahasa Inggris, namun aku tau mimpi itu mengharuskanku untuk mempelajarinya. Nyatanya kemampuan Bahasa Inggrisku tidak banyak berubah meski aku telah belajar mati-matian. Dengan skor TOEFL yang rendah aku memberanikan diri untuk mencoba beasiswa Taiwan. Aku mendaftar untuk semester spring. Malang, dari sekian banyak lamaran yang kukirim tidak satu pun yang menerima. Rasanya sungguh kecewa. Uang sudah habis, lelah ngurus berkas kesana-kemari, pusing membagi waktu antara kerja dan belajar, tidak lulus pula.

Dalam hati aku merasa pantas mendapatkan semua itu. Aku tidak memiliki IPK cumlaude untuk memenuhi syarat beasiswa luar negeri pada umumnya, aku bukanlah mahasiswa yang pintar.  Wajar saja dengan IPKku yang cuma sedikit di atas rata-rata itu aku tidak lulus. Bagaikan si pungguk merindukan bulan, begitulah aku yang melamar beasiswa luar negeri ini. Sempat down, kecewa. Rasanya terlalu jauh aku memimpikan semua itu. Tapi di tengah-tengah kegagalan itu lagi-lagi aku merenung tentang mimpi itu. Mimpi itu begitu kuat sampai-sampai kecewaku tidak mampu menghentikannya. Tidak, aku tidak akan menyerah. Tidak pada kegagalan, tidak pada masalah, tidak juga pada Bahasa Inggris.

Semester selanjutnya, aku kembali mendaftar untuk semester fall. Banyak lamaran dikirim, hanya satu yang menerimaku dengan beasiswa parsial, beasiswa yang membebaskanku dari pembayaran uang kuliah. Sebuah universitas negeri di Taiwan, universitas yang kutau akan menjadi tempatku melanjutkan mimpi masa kecil itu.

Setelah perjuangan mengumpulkan uang kesana-kemari, setelah persiapan panjang yang menguras energi dan materi dan setelah diskusi yang alot dengan orang tua, akupun akhirnya berangkat menuju negeri formosa. Orang tuaku sudah tua, sudah berumur sekitar 70 tahunan. Wajar saja mereka merasa berat untuk melepaskanku pergi untuk menuntut ilmu kembali. Menurut mereka aku sebaiknya bekerja saja dan menghasilkan uang.

Perjuangan itu baru benar-benar terasa setelah aku sampai di Taiwan. Jurusan kami, Economics (Ekonomi Murni) diajarkan dalam dua bahasa atau bilingual, setengah Bahasa Inggris dan setengah Bahasa Mandarin. Aku sudah mengetahui kondisi ini sejak mendaftar ke universitas ini. Namun bagiku itu adalah sebuah tantangan, dan aku sudah siap menghadapinya.

Katanya bilingual, kenyataanya dosennya sering lupa berbahasa Inggris. Kalaupun dia berbahasa Inggris, kadang terdengar seperti bahasa mandarin di telingaku. Kami belajar di kelas reguler, digabung dengan mahasiswa lokal karena mahasiswa internasionalnya cuma dua orang, aku dan temanku Dori. Sebenarnya hal ini menjadi sebuah dilema bagi dosen. Jika dia berbahasa Inggris maka mahasiswa lokal akan kesulitan memahami, jika dia berbahasa Mandarin maka kami yang dua orang inilah yang tidak mengerti. Jika diajarkan dengan billingual maka materi yang sangat banyak itu tidak akan tersampaikan semua. Serba salah memang.

Bisa dibayangkan apa yang kuhadapi kelas dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang pas-pasan dan bahasa Mandarin yang benar-benar buta. Ada satu matakuliah yang karena keterbatasan waktu harus diajarkan sepenuhnya dalam Bahasa Mandarin, matakuliah Matematika Ekonomi. Untuk mata kuliah ini, aku benar-benar  angkat bendera putih. Padahal mata kuliah ini adalah dasar untuk semua mata kuliah yang lain.

Sejujurnya jika diterangkan dalam Bahasa Indonesiapun belum tentu aku mengerti mata kuliah ini, karena materinya memang sangat susah karena mengaplikasikan konsep Matematika dalam Ilmu Ekonomi. Apalagi dengan menggunakan bahasa yang bagaikan bahasa planet lain bagiku. Rumusnya datang dari mana, digunakan untuk apa dan kapan digunakan, aku tidak tau. Astaga, aku merasa mual, pusing dan keringat dingin jika sudah melihat perpaduan kalkulus dan tulisan mandarin yang berbentuk balok dan kotak-kotak itu di papan tulis. Apalagi dengan penjelasan dosen yang berbahasa Mandarin, rasanya seperti ada tawon terbang-terbang di dekat telingaku. Ngang ngung ngeng, yah, itulah yang kudengar selama 3 jam tiap kuliah. Itu sanggup buat emosi naik dan angan melambung tinggi. Meskipun istirahat cukup dan makan kenyang, tetapi setelah kuliah 3 jam dengan Bahasa Mandarin itu rasanya seperti tidak tidur seminggu dan tidak makan 2 hari, benar-benar lemas. Itu kedengaran lebay, tapi itu benar. Meskipun begitu, kami sangat menanti-nanti kapan dosen kami ini berkata satu katapun dalam Bahasa Inggris. Saat itu terjadi, kepala kami berdua langsung terangkat berusaha menyimak apa yang dikatakannya. Kenyataan, sepatah kata yang kami dengar tidak cukup untuk membuat kami mengerti pelajaran itu.

Dori… Temanku ketika kuliah S1. Aku berangkat kesini bersama dia. Hanya ada 2 orang mahasiswa internasional di jurusan kami, yaitu aku dan dia. Tidak seperti aku, dia adalah mahasiswa paling cemerlang di Fakultas Ekonomi di kampus paling top di Sumatera sana, dengan IPK cumlaude dan score toefl diatas 600. Tapi di sini kami menghadapi kondisi yang sama. Di semester pertama kemampuan Bahasa Inggrisnya yang jago itu hampir tidak terpakai sama sekali karena bahasa yang dipakai di kelas adalah Bahasa Mandarin. Ah, malangnya dia. Materi dan gelar yang kami banggakan dan kami junjung tinggi itu hampir tidak berguna disini. Apa yang kami pelajari ketika kuliah S1 tidak kami gunakan disini. Apakah kami memulai dari 0? Tidak! Kami memulainya dari minus. Di samping itu, kami belum terbiasa dengan para dosen di sini yang sungguh disiplin.

Saat para mahasiswa master di jurusan lain sudah sibuk dengan paper dan penelitian, kami masih dijejali dengan teori dan ujian-ujian. Ada ujian akhir, dua kali ujian mid-term dan dua kali kuis untuk tiap-tiap mata kuliah.  Jika kami membawa 4 mata kuliah, berapa kalikah kami ujian dalam satu semester?

Di semester pertama aku benar-benar depresi. Aku masih sangat kesusahan untuk memahami penjelasan rumus-rumus di buku teks yang berbahasa Inggris itu. Aku mencoba untuk mencari materi tersebut dalam Bahasa Indonesia namun tidak ada. Seharusnya sudah ada literatur tentang materi itu dalam Bahasa Indonesia. Bisa dibayangkan betapa terbatasnya sumber-sumber yang mendukung perkembangan Ilmu Ekonomi itu di Indonesia. Ilmu Ekonomi berkembang? Ya, banyak teori yang berubah seiring perkembangan peradaban manusia. Contoh sederhananya, dulu kita belajar bahwa pasar itu adalah tempat bertemunya pejual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Namun sekarang pasar itu bukan lagi didefinisikan sebagai tempat, karena transaksi bisa dilakukan dengan online, bukan?.

Semua itu mengharuskan kami untuk berusaha belajar sendiri. Buku berbahasa Inggris, dosen berbahasa Mandarin, kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan, lengkaplah penderitaan dengan kemampuan Matematikaku yang juga tidak kuat. Sebenarnya dosen-dosen kami di sini sangatlah baik. Mereka selalu berusaha menolong kami dan terbuka untuk berdiskusi. Namun diskusi berjam-jam pun tidak akan cukup bagi kami untuk mengejar ketertinggalan selama ini. Di samping itu para dosen juga bekerja dengan profesional, tidak membeda-bedakan kami dalam ujian maupun nilai. Soal ujian dibuat dalam Bahasa Inggris, dan mahasiswa bebas menjawabnya dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin. Kami tentu saja menjawab ujian dengan Bahasa Inggris, karena tidak mungkin juga kami menjawabnya dengan Bahasa Indonesia meskipun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya. Dosen juga memberikan nilai secara objektif, sesuai kemampuan kami yang sebenarnya.

Aku benar-benar frustrasi saat ujian mid-term pertama sekali mata kuliah Teori Ekonomi Mikro, saat aku belum mengerti apa-apa karena baru sebentar kuliah. Soal ujian ada 7 soal dan semuanya beranak cucu. Tiap soal masing-masing punya anak minimal 3 bahkan sampai 6, belum termasuk cucu-cucunya. Semua induk soal terhubung satu sama lain dengan anak dan cucunya. Jadi  jika salah menjawab soal induknya, maka akan salah semua sampai anak cucunya. Tidak ada toleransi dalam pemberian nilai. Jika cara mengerjakannya benar dan jawabannya salah, tetap saja tidak diberi skor. Skor hanya diberikan jika caranya benar dan jawabannya juga benar.

Seminggu setelah ujian selesai, hasil ujian dibagikan oleh dosen. Dia memeriksa setiap jawaban dengan teliti dan menunjukkan letak kesalahan di lembar jawaban ujian tersebut. Saat lembar jawaban dibagikan, kondisinya dalam keadaan tertutup. Namun tanpa sengaja aku melihat nilai dari beberapa teman sekelasku, ada yang mendapat skor 65, ada yang 70. Aku? Saat dosenku memanggil namaku dan memberikan kertas itu, aku tau dia memandangku dengan sangat iba. Aku mencoba untuk tersenyum padanya, seolah berkata bahwa aku sudah siap dengan itu. Berusaha tegar meskipun dalam hati aku sudah menangis darah. Sesampainya di kursi, aku membuka lembar jawabanku, ternyata aku hanya mendapat nilai 2 dari skala 100. Astagah! Rasanya langsung lemas, kepala berat, pandangan berkunang-kunang. Ingin menangis saja rasanya. Kumpulkan sisa tenagaku untuk menahan air mata dan aku tersenyum memandang kertas jawaban itu. Kusempatkan diri untuk memoto nilai 2 itu sebelum kertas jawaban itu dikumpul kembali. Ini akan menjadi hal yang tidak terlupakan bagiku, untuk pertama kali seumur hidup aku mendapatkan nilai serendah itu. Kuharap juga menjadi yang terakhir kali. Ampun. Aku tidak mau lagi.

Sore itu, 24 Desember 2014, sebelum malam Natal tiba, kami menjumpai dosen mata kuliah tersebut untuk membicarakan nasibku ke depan. Apakah aku bisa mengikuti ujian perbaikan atau setidaknya mengerjakan tugas agar nilaiku bisa sedikit terangkat. Namun gayung tidak bersambut, dosen tersebut tidak menyetujuinya. Beliau tetap pada standar yang telah dibuat, tidak ada pengecualian. Beliau hanya berpesan agar aku melakukan yang terbaik. Ucapan Selamat Natal mengakhiri pembicaraan kami. Aku sangat sadar bahwa akulah paling bodoh di kelas kami itu. Nilai 2 itu sudah menghancurkan harapanku untuk lulus mata kuliah itu seberapa tinggi pun nilai yang kuperoleh dalam ujian selanjutnya. Nyesek. Itulah kado Natal buatku.

Mata kuliah yang lainnya juga tidak lebih baik. Suatu hari kami ujian mata kuliah Ekonometrika, mata kuliah yang menggabungkan Matematika, Statistika dan Teori Ekonomi, juga dengan bantuan komputer. Soalnya ada 10 dan seperti biasanya soal itu beranak cucu. Kami diberikan waktu 3 jam untuk menyelesaikannya. Namun pada saat pertama sekali membaca soalnya pun aku sudah keringat dingin, tidak ada satu pun yang kumengerti. Padahal aku sudah berusaha keras mempersiapkan diri, sampai-sampai aku hanya tidur 2 jam tiap hari selama seminggu sebelum ujian itu. Aku mencoba menggali memoriku saat ujian, mengingat setiap rumus yang digunakan dan mengaplikasikannya. Aku tetap mengerjakan walau aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kutulis. Akhirnya setengah jam pertama aku sudah menyerah, tidak tahu lagi yang mau kutulis. Buat apa aku berlama-lama di ruang ujian itu jika aku tidak tahu apa-apa. Aku melirik Dori, ternyata dia juga sama. Kukirim  kode isyarat padanya agar kami keluar saja. Ok. Dia membaca kode dengan baik. Kami mengumpul kertas jawaban yang sebagian besar kosong itu. Assisten dosen yang mengawasi kami heran melihat tingkah kami. Saat orang lain merasa waktu yang diberikan 3 jam itu kurang, kami justru sudah keluar setelah setengah jam. Ajaib mahluk yang dua ini, pikirnya.

Ada satu lagi pengalaman tak terlupakan yang berhubungan dengan kemampuan Bahasa Inggris yang amburadul ini. Kami diharuskan mempresentasikan sebuah paper untuk mata kuliah lain, Teori Ekonomi Makro. Baiklah, ini akan menjadi pengalaman pertamaku presentasi dalam Bahasa Inggris.

Aku satu kelompok dengan Dori dan mendapat giliran presentasi paling akhir, sehingga kami punya waktu kurang lebih dua bulan untuk persiapan.  Selama dua bulan itu Dori mempersiapkan bahan presentasi kami dan berulangkali kami menemui dosen mata kuliah tersebut untuk berdiskusi tentang bagian-bagian yang tidak kami pahami dalam paper itu. Dosen tersebut mengajari kami dengan sabar, bahkan untuk hal-hal paling mendasar yang seharusnya sudah kami pelajari ketika kuliah S1. Sesungguhnya aku sangat kesusahan memahami satiap rumus dan hitungan di dalam paper itu. Bahkan jika boleh jujur, hampir tak ada bagian yang kumengerti dengan baik.

Akhirnya kami berbagi tugas dengan Dori sehingga kami bisa fokus pada bagian masing-masing. Aku mendapat bagian tengah, bagian yang seharusnya paling mudah namun tetap susah bagiku. Begitupun aku mempelajari paper itu pelan-pelan sambil berusaha menghafal kata-kata yang akan kuucapkan di setiap slide. Ketika latihan presentasi, Dori mengajariku pronunciation beberapa kata yang sangat sulit kuucapkan.

“Bukan begitu, itu salah”, kata Dori dengan kesal.

“Apanya lagi yang salah? Terus bagaimana yang benar?”, bantahku.

Dori pun mengucapkan cara pelafalan yang sebenarnya.

“Aku juga bilang begitu”, kataku menyela dia, karena memang aku bermaksud melafalkan demikian.

“Matamu itu, begininya kau bilang”, katanya dengan logat Bataknya.

Ah, aku memang sangat kesusahan dalam pelafalan kata-kata Bahasa Inggris. Isi di kepalaku sering kali berbeda dengan apa yang kulafalkan. Aku sering berdebat dengan Dori tentang pelafalan itu. Dengan semua itu, bisa anda bayangkan betapa kacau presentasi yang kulakukan saat itu?

Saat Dori presentasi, semua mahasiswa masih memperhatikan dia atau setidaknya masih membaca slide presentasi. Dosen kami juga masih mangangguk-anggukkan kepala tandanya dia mengerti. Ok, tibalah giliran ku. Astagah! Setengah dari teman sekelasku  tidur dan setengah lagi tidak peduli. Hanya dosen kami itu yang mencoba mendengarkanku meski aku tau dia juga kebingungan dengan apa yang kukatakan. Ah… apa yang harus kulakukan dengan Bahasa Inggris ini?

Lidah ini terlalu kaku untuk berbicara Bahasa Inggris. Sangat kaku. Mungkin karena kebanyakan makan cabe dan andaliman begini jadinya. Aku sudah berusaha belajar Bahasa Inggris sejak dulu, bahkan aku sudah mengikuti les Bahasa Inggris sejak SMA. Sampai aku kuliah dan kerjapun, aku masih menyisihkan waktu dan uang untuk kursus Bahasa Inggris. Sewaktu kerja, aku mengikuti kursus di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris ternama di Indonesia. Saat itu Dori adalah salah satu staf pengajar di lembaga tersebut. Lalu kenapa aku harus bayar mahal-mahal ke lembaga itu untuk diajari oleh teman dekatku sendiri? Bukankah lebih baik aku les sama Dori saja?

Ya, pernah aku belajar sama Dori, tapi dia menyerah menghadapiku. Katanya aku tidak pernah serius, terus main-main dan mengganti jadwal sesuka hati. “Kau les saja di luar, biar bayar mahal agar kau serius”, katanya saat itu. Begitulah aku kembali belajar di lembaga terkenal itu, dan sesekali Dori mengajar di kelasku. Bisa dibayangkan kalau Dori mengajar di depan dan aku adalah salah satu muridnya, aku merasa bagaikan sedang kursus privat saja di rumahku atau di rumahnya. Sesekali kukerjai dia di kelas sehingga teman-teman sekelasku kebingungan. Dan akhirnya kemampuan Bahasa Inggrisku tidak banyak berkembang.

Susah memang. Tapi aku selalu tahu bahwa susah bukan berarti tidak bisa. Itulah prinsip yang selalu kupegang. Bukan karena aku tidak bisa Bahasa Inggris lalu aku berhenti mengejar mimpi. Tidak! Aku akan terus melangkah meski banyak rintangan. Bagaimanapun aku harus siap dengan segala konsekuensi dan tahan banting terhadap badai apapun yang mungkin akan kuhadapi di depan.

Masa-masa libur aku lalui dengan tidak tenang menunggu-nunggu nilai ujian keluar. Setiap hembusan napas itu adalah helaan panjang yang seolah mengeluarkan rasa sesak di dada. Sesungguhnya aku bukanlah tipe mahasiswa yang mengejar nilai dan suka cari muka di depan dosen hanya untuk mendapat nilai bagus. Sejak S1 aku tidak terlalu perduli dengan nilai yang diberikan oleh dosen selama aku melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Terdengar berlebihan, tapi aku hanya peduli pada ilmu yang mendukungku mengejar mimpi itu. Sewaktu kuliah S1, aku lebih sering duduk di belakang karena bosan membaca materi yang kutahu tidak berubah dari tahun ke tahun. Apalagi harus mencatat bahan yang didikte oleh dosen dari catatan lapuknya itu, sungguh bukanlah kebiasaanku. Ketika ujian tiba, nilai tertinggi selalu diperoleh mahasiswa yang sanggup memenuhi semua lembar jawaban itu. Mahasiswa yang tidak pintar mengarang bebas sepertiku akan mendapat nilai yang rendah. Alhasil banyak nilai A yang bergentayangan di KHS mahasiswa tidak tahu asalnya dari mana. Namun ada kalanya juga aku menemui diriku duduk di depan dan mendengar dengan tekun ketika dosen favoritku yang masuk.

Di sini, apa yang aku anut tentang nilai ketika S1 berubah total. Nilai itu menjadi sangat penting bagiku karena menyangkut hidupku selama disini. Beasiswa di sini harus didaftar setiap semester dan penilaiannya didasarkan pada IP. Inilah yang membuat rasanya nyesek di dada selama menunggu nilai. Pada malam pengumuman nilai itu keluar, rasanya begitu hancur melihat aku gagal satu mata kuliah. Mata kuliah wajib yang telah mengajariku bagaimana rasanya mendapat nilai 2. Yah, mata kuliah wajib. Artinya aku harus mengulang kembali mata kuliah yang paling sulit itu tahun berikutnya. Dan seperti yang sudah kuduga sejak awal, aku mendapatkan IP yang sangat rendah. Ya, IP ku di bawah 3 dari skala 4.5. Astaga! Ini yang terendah sepanjang hidupku. Sedangkan waktu kuliah S1 saja dengan skala 4 IPku tidak pernah serendah itu. Harusnya aku sudah siap dengan semuanya itu, tapi tetap saja saat menerima kenyataan itu rasanya remuk. Tidak tau harus berkata apa lagi. Tanpa bisa kutahan akhirnya air mata itu mengalir juga.

Hilang sudah harapanku untuk mendapatkan beasiswa semester berikutnya. Jangankan untuk mendapatkan beasiswa, untuk melamar beasiswa saja sebenarnya IPku sudah tidak lagi memenuhi syarat. Benarlah aku penutup ranking semester itu, ranking terakhir dari semua mahasiswa dalam kelasku.  Rasanya hancur, sedih, nyesek, pengen teriak, semuanya campur aduk. Baiklah, hidup memang tidak sebercanda film telenovela itu terkadang. Tidak ada pilihan lain selain terus berjalan.

Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk semester berikutnya, kalau aku tidak akan mendapatkan beasiswa lagi. Aku mengajak Dori mencari pekerjaan selama libur musim dingin. Kami keluar masuk restoran untuk menanyakan pekerjaan, menjadi tukang cuci piring atau tukang sapu atau apapun yang bisa menghasilkan uang yang halal. Kembali lagi masalah bahasa, semua restoran menolak kami karena tidak bisa berbahasa Mandarin.

Aku memutar otak, mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan kemampuan Bahasa Mandarin. Akhirnya kami diterima bekerja di sebuah ladang organik selama libur musim dingin itu. Kami harus berjuang melawan dinginnya udara musim dingin yang menusuk sampai ke tulang saat itu, bangun pagi-pagi untuk menyiapkan bekal makan siang dan sarapan. Pukul 5.30 pagi, di saat orang lain masih tidur lelap, kami sudah berangkat meninggalkan asrama, mengayuh sepeda menuju ladang organik tersebut.  Kami bekerja selama 8 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Kadang kalau laoban menyuruh kami bekerja pada hari Sabtu dan Minggu, kami pun akan bekerja setengah hari. Di ladang kami mengerjakan banyak hal seperti mencangkul, menanam, dan memanen sayur-mayur. Tiga hari pertama letihnya benar-benar terasa, seluruh badan terasa pegal, otot terasa kaku, dan tidak bisa tidur. Namun bagi kami anak petani, pekerjaan seperti itu sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Setelah seminggu bekerja kami mulai terbiasa dengan semua rasa capek itu, bahkan mulai menikmatinya seperti yang biasa kami lakukan ketika pulang kampung saat libur.

Setelah libur selesai kami pun berhenti kerja di ladang. Padatnya jadwal kuliah dan materi yang sulit benar-benar tidak memungkinkan kami untuk bekerja sambil kuliah. Dengan IP yang sangat rendah dan tidak memenuhi syarat itu aku membulatkan tekad untuk tetap mendaftar beasiswa. Aku benar-benar bergantung pada beasiswa ini, karena orang tuaku tidak mungkin membiayai aku lagi. Mereka masih miskin seperti dulu dan sekarang mereka juga sudah tua. Saat menunggu pengumuman beasiswa, jantungku selalu berdebar kencang ketika aku mengingatnya. Tibalah saatnya kami mengetahui hasil seleksi beasiswa itu lebih awal, saat kami meeting dengan profesor yang merupakan ketua departemen kami.

“Dami dan Dori, saya baru saja menghadiri rapat seleksi beasiswa. Dan berita buruk untuk kalian berdua, kalian hanya mendapat beasiswa tipe C karena nilai kalian sangat rendah. Kalian harus membayar uang kuliah dan uang kredit seperti mahasiswa lokal. Apa itu masalah buat kalian?”, kata profesor itu dengan sangat berat. Kami sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Yes, Professor”.

Awkward moment itu berlangsung cukup lama. Kami tahu bahwa beliau sangat tidak tega melihat kami dalam keadaan seperti itu. Aku mencoba tenang dan menghitung-hitung biaya yang harus kami bayar dengan status beasiswa itu. Belum lagi selesai menghitungnya kepalaku sudah seperti bergoyang membayangkan angka yang besar itu.

“Saya sudah berbicara panjang pada dewan komite beasiswa tentang betapa sulitnya mendapatkan nilai tinggi di jurusan kita, berbeda dengan jurusan lain. Saya sudah mencoba sebisa mungkin mempertahankan kalian, namun akhirnya kalah karena nilai kalian sangat rendah”.

Belum cukupkah malu akibat nilai itu? Belum cukupkah aku harus mengulang setengah tahun lagi karena nilai itu? Haruskah nilai itu membuat hidupku semakin berat di Taiwan ini? Rasanya begitu hancur. Dan masih, hidup harus terus berjalan.

Hitung-berhitung, kami harus mendrop beberapa mata kuliah untuk mengurangi beban kredit pembayaran kami. Itu artinya kami akan tamat lebih lama karena kami harus menyelesaikan 43 kredit selama 2 tahun, jauh melampaui kewajiban kredit program master di jurusan lain. Dan parahnya kami hanya bisa mendaftar beasiswa dalam jangka 2 tahun. Total biaya yang harus kami bayar adalah NTD 45.000, sekitar 18 juta rupiah dengan kurs NTD 1 = Rp.400,-. Dari mana mencari uang sebanyak ini? Beban kuliah semakin berat, bekerja tidak mungkin, butuh uang 18 juta rupiah untuk bayar uang kuliah, apa yang bisa kulakukan?

Air mataku berjatuhan dalam perjalanan pulang setelah meeting dengan profesor. Sesakit inikah mengejar mimpi itu?  Seberat inikah beban yang harus dipikul orang miskin itu? Kenapa tidak pulang saja ke Indonesia? Bukankah sudah punya gelar S1? Nanti juga bisa bekerja di Indonesia. Terselip rasa ingin menyerah.

Tidak! Aku tidak akan pulang. Mimpi itu telah merasuk jiwaku terlalu dalam dan aku sangat mencintai mimpi itu. Aku mengatakan pada diriku bahwa aku ini adalah seorang pahlawan perang. Hanya ada dua hal yang membuat seorang pahlawan pulang, yaitu menang atau mati. Aku belum menang dan masih hidup, aku akan terus berperang sampai menang. Sampai aku tiba pada mimpi itu. Dan ini hanyalah langkah awal menuju itu. Di tengah deraian air mata itu aku menemukan semangatku kembali.

Dimana ada kemauan di situ ada jalan, itulah yang kupikirkan. Aku memutuskan untuk meminjam uang dari teman-teman sesama mahasiswa Indonesia yang lebih beruntung mendapatkan beasiswa Dikti dari pemerintah. Aku meminjam sebanyak NTD 42.000,- dari tiga orang, jumlah yang tidak sedikit bagiku. Uang dari hasil bekerja di ladang benar-benar tidak cukup,  bahkan untuk biaya hidup pun aku masih harus meminjam lagi.

Aku dan Dori memutuskan untuk hidup dengan sangat hemat. Kami hanya makan sayur dan ubi. Kadang-kadang makan buah jika sedang ada diskon. Tidak makan nasi sama sekali. Karena kalau makan nasi, setidaknya harus ada anak ayam, anak ikan atau anak babi sebagai lauk di sisinya, bukan? Dan itu terlalu mahal bagi kami. Merebus ubi atau sayur tidak hanya lebih hemat, tapi juga lebih sehat dan lebih cepat. Kami juga harus belajar menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Saat itu kami benar-benar banting tulang dalam hal belajar. Kami jadi terbiasa untuk tidur hanya dua jam dalam sehari. Kami tidak mau kejadian semester pertama terulang kembali.

Di situ juga kami belajar manajemen keuangan yang baik.  Meskipun uang yang kuperoleh berasal dari pinjaman, aku membagi pengeluaranku menjadi lima bagian: 10% untuk ibadah, 50% untuk konsumsi, 20% untuk tabungan, 10% untuk sosial dan 10% untuk berjaga-jaga. Nah, itulah sebabnya meskipun aku memiliki banyak hutang, aku masih sempat-sempatnya mentraktir teman, mengirimkan kado untuk keponakan yang baru lahir, bahkan pergi jalan-jalan. Bukan karena aku kaya, bukan! Aku bahkan memiliki hutang sekitar 20 juta rupiah pada usia 24 tahun. Anak gadis apaan punya hutang sebanyak itu? Aku hanya ingin menikmati setiap rasa yang kulalui dalam hidup ini, baik itu manis maupun pahit. Jangan karena punya hutang jadi tidak menikmati hidup, jangan karena miskin jadi tidak bersosialisasi. Hidup harus normal meskipun miskin dan banyak hutang.

Kami berusaha untuk bangkit dari segala keterpurukan di semester pertama itu. Setelah mengetahui betapa buruknya kondisi kami di semester sebelumnya, ketua departemen kami memutuskan untuk membimbing kami secara langsung. Kami berada di bawah pengawasan ketatnya selama semester kedua. Benar saja kami dihajar untuk belajar mati-matian. Setiap minggu kami mengadakan pertemuan selama 2 jam. Setiap pertemuan kami harus mempresentasikan masing-masing sebuah paper. Bukan paper biasa, tapi paper yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal top internasional, jenis paper yang tidak pernah kukenal saat aku kuliah S1. Tidak cukup hanya mempresentasikan, kami juga harus menyelesaikan semua perhitungan matematis yang ada di dalam paper itu. Semua persamaan dan antek-anteknya harus bisa kami jelaskan dengan baik. Bagaikan anak ayam kebingungan, sering kami menemui diri kami membodoh saat beliau menyuruh kami menyelesaikan suatu perhitungan di papan tulis. Beliau tidak segan memarahi kami jika kami tidak tahu cara menurunkan, menginverskan, mengintegralkan dan mengoperasikan semua pasukan matematika dalam Ilmu Ekonomi. Ah… Sungguh berat.

Sebenarnya aku butuh waktu setidaknya sebulan untuk menguasasi satu paper yang tergolong mudah. Namun beliau hanya memberi kami waktu seminggu untuk mempelajari dan menyelesaikan semua perhitungan di dalam paper-paper yang begitu sulit. Belum lagi kami harus memikirkan tugas-tugas mata kuliah lainnya yang sama sulitnya. Benar-benar ngos-ngosan, bernapas pun rasanya hampir tidak sempat. Dengan kemampuan matematika kami yang begitu lemah, rasanya wajar beliau memperlakukan kami seperti anak SD. Walau kadang dia marah-marah, kami sadar di balik marahnya beliau menginginkan yang terbaik untuk kami. Dan aku sendiri sungguh bersyukur memperoleh kesempatan untuk dibimbing oleh seorang profesor yang sangat disegani di bidang ini. Walau beliau begitu keras, kami merasa beliau memperlakukan kami seperti anaknya. Aku yakin beliau juga merasakan hal yang sama.

Sejujurnya, aku sungguh menikmati keletihan semester dua itu. Melalui paper-paper yang kami presentasikan aku mulai mengerti untuk apa digunakan teori dan konsep yang kami pelajari di semester satu. Cara profesor membimbing kami membuat kami juga semakin tangguh dalam mata kuliah lainnya. Kami mulai bisa mengikuti semua pelajaran yang diajarkan dosen, bahkan mulai bisa mengimbangi teman sekelas. Dan aku sadar betul, kemampuan Bahasa Inggrisku jauh lebih baik setelah dipaksa presentasi setiap minggu oleh profesor sekaligus ketua departemen kami itu.

Semester kedua akan berakhir, sibuk dengan tugas final project, libur summer pun tiba. Saatnya melepas lelah dan memandang jejak yang kami lalui selama semester dua. Sungguh puas rasanya melalui itu semua dengan kemampuan terbaik kami. Bahagia tak terungkapkan saat pengumuman nilai, aku dan Dori mendapatkan IP sempurna, 4.5 dari skala 4.5. Angka yang tidak pernah aku impikan, apalagi harapkan. Rasa capek dan lelah itu terbayar akhirnya. Aku terdiam, di pelupuk mataku hangat, aku terharu dengan semuanya. Air mata dan keringat itu begitu indah. Jika semester lalu aku menangis sedih karena nilai terendah yang kuperoleh sejak aku mengenal bangku sekolah, kali ini aku menangis bahagia karena nilai tertinggi yang pernah kudapatkan sejak aku mengenal bangku sekolah. Aku berharap bahwa nilai ini akan membawaku mendapatkan beasiswa sehingga aku bisa membayar hutang-hutangku.

Libur summer itu kami bekerja lagi. Kami harus mencari pekerjaan lain karena peraturan pemerintah tidak mengizinkan lagi mahasiswa untuk bekerja di ladang. Kami menemukan pekerjaan yang baru di gudang pengepul barang-barang bekas, tepatnya bekerja di tempat sampah. Pekerjaan kami di sana adalah memilah sampah berdasarkan jenisnya, membedakan botol, kaleng, kertas dan sebagainya. Kami mencoba menikmati pekerjaan itu meski sebenarnya sangat kotor, bau, dan melelahkan. Dengan mengingat gaji, rasa capek dan udara panas saat itu itu tidak terasa. Kami hanya bekerja selama dua minggu karena sampah-sampah yang menggunung itu akhirnya habis juga kami pilah-pilah. Kami mencoba mencari pekerjaan lain setelah itu, tapi kami tidak menemukan pekerjaan lain lagi. Baiklah, mungkin sudah saatnya kami beristirahat sejenak dan menikmati liburan yang tersisa dengan sedikit hiburan.

Telah kualami sulitnya perjuangan selama satu tahun di Taiwan, dan kenyataannya aku sanggup melaluinya. Liburan berakhir, saatnya memulai kembali perjuangan yang baru. Sungguh bersyukur, pengumuman beasiswa menyatakan bahwa aku mendapat beasiswa tipe A, beasiswa yang membebaskanku dari pembayaran uang kuliah dan juga memberi tunjangan hidup sebanyak NTD 30000 selama satu semester. Dengan ini aku bisa melunasi semua hutangku semester lalu. Bukan karena usahaku semata, semua adalah berkat Tuhan yang bekerja melalui orang-orang di sekitarku. Kepahitan yang telah kulalui membuatku semakin berani untuk berkelana lebih jauh lagi, mengejar impian yang semakin nyata. Tidak ada lagi kekhawatiran dan ketakutanku mengejarnya.

Jangan karena miskin jadi takut bermimpi, jangan karena bodoh jadi tidak mau melangkah. Bermimpilah semiskin apapun, melangkahlah sebodoh apapun. Tidak ada yang mustahil. Aku ini miskin dan tidak pintar. Tak ada yang kumiliki. Yang kumiliki hanyalah mimpi dan keberanian untuk mewujudkannya. Sebagaimanapun kerasnya hidup mencabik-cabik aku, aku takkan berhenti sampai mimpi itu menjadi nyata.

Saat kita berjuang, segala alam pun akan ikut berjuang bersama kita. Seperti kata Adam Smith yang disebut sebagai Bapak Ekonomi itu, tentang the invisible hand (tangan-tangan tak tampak). Akan ada tangan-tangan tidak terlihat yang akan mendorong pasar itu mencapai keseimbangan. Saat kita terpuruk, sebenarnya ada tangan-tangan yang tidak kita lihat yang bekerja untuk mencapai keseimbangan kita. Aku menyebut tangan tak terlihat yang bekerja itu “Tuhan”.

Perjalanan ini masih panjang, perjuangan belum berakhir. Kusadari mimpi yang lebih besar kini kembali mulai mengetuk-ngetuk kepalaku dari dalam. Telah kujalani masa-masa sulit dalam perjuanganku meraih mimpi, telah kulalui banyak rintangan, dan telah kutaklukkan banyak tantangan. Dan aku percaya, aku juga bisa melalui apapun yang ada di depan sana. Ya, cerita ini belum selesai, mimpi ini belum selesai. Sampai jumpa di gerbang kesuksesan, jangan hanya di gerbang mari berjalan masuk ke dalam kesuksesan itu.

***

Damiana Simanjuntak adalah salah satu penulis naskah terbaik dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif selama Belajar di Taiwan yang diselenggarakan oleh PPI Taiwan tahun 2015. Mahasiswi program Master di National Dong Hwa University angkatan tahun 2014 ini merupakan mahasiswi berprestasi. Salah satu pencapaiannya adalah mewakili Universitas Sumatra Utara dalam Lomba Karya Ilmiah dan Konferensi Ilmuwan Muda Indonesia di Universitas Indonesia pada tahun 2012.

Prosesi Penyerahan Hadiah Lomba Menulis Kisah Inspiratif PPI Taiwan

Divisi Sosial, Budaya, dan Kreativitas Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan menggelar prosesi penyerahan hadiah kepada tiga penulis terbaik dalam Lomba Menulis Kisah Pengalaman Unik Selama Tinggal di Taiwan pada Minggu (15/11) di Shinkong Mitsukoshi Xinyi district, Taipei.

Prosesi penyerahan hadiah ini berlangsung dalam rangkaian perhelatan acara Remarkable Indonesia 2 yang diselenggarakan oleh Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. Hadiah berupa sertifikat penghargaan dan uang pembinaan sebesar NTD 2500 untuk masing-masing penulis diserahkan langsung oleh Kepala Bidang Pariwisata KDEI, Bapak Agung Sepande, dengan didampingi oleh ketua PPI Taiwan, Iman Adipurnama, dan kepala Divisi Sosial, Budaya, dan Kreativitas PPI Taiwan, Mufid Salim.

Kegiatan yang berlangsung sejak akhir bulan September hingga pertengahan bulan November ini diawali dengan pendaftaran peserta ke panitia, pengiriman naskah cerita, data penulis, serta foto yang berkaitan dengan naskah cerita, penjurian oleh dua orang juri independen yaitu Deri Rizki Anggarani, penulis buku, trainer sekaligus pendidik gizi, dan Yunita Indah, penulis dan penyunting di PT Agro Media Pustaka, hingga kemudian terpilihlah tiga naskah cerita terbaik dari 51 naskah cerita yang masuk ke panitia.

Lomba menulis yang mengusung tema “Menuntut Ilmu di Bumi Formosa” ini bertujuan sebagai media bagi warga Indonesia yang sedang atau pernah menempuh pendidikan di Taiwan untuk menuliskan dan berbagi kisah inspiratifnya untuk rekan-rekan muda Indonesia lainnya.

Setelah melalui proses penilaian yang cukup panjang dan ketat karena secara garis besar ide cerita dari peserta yang sangat bagus, tim juri memutuskan naskah cerita “Nilai 2 dan Mimpi yang Semakin Nyata” karya Damiana Simanjuntak dari National Dong Hwa University, “Teh Gang FORMOSA” karya Yogi Tri Prasetyo dari National Taiwan University of Science and Technology, serta “Mencari Ruang Hangat di Bumi Formosa” karya Alan Saputra dari National Taipei University of Education sebagai 3 naskah paling unik dan inspiratif.

Kisah-kisah perjuangan teman-teman pelajar Indonesia tersebut tidak hanya bercerita tentang impian-impian tetapi juga tentang keberanian mewujudkan mimpi, mengambil risiko, dan menelan kepahitan di tanah rantauan untuk bangkit dan mewujudkan mimpi dan mencapai kesuksesan dalam kehidupan mereka.

Para penulis berhasil merajut kisah-kisah tersebut dalam judul menarik, alur cerita yang apik, serta pemilihan diksi yang membuat pembaca penasaran untuk membaca ceritanya hingga akhir.

Damiana, Yogi dan Alan sepakat bahwa lomba ini adalah kegiatan yang sangat mereka tunggu-tunggu untuk bisa berbagi mengenai pengalaman mereka kepada teman-teman yang lain untuk terus berjuang, terus belajar, dan terus berkembang agar bisa berbuat hal yang lebih banyak kepada masyarakat.

“Harapan kedepannya, semoga PPI Taiwan tidak hanya mengadakan lomba menulis tetapi juga pelatihan mengenai cara menulis karena ide-ide cerita dari peserta lomba sangat menarik hanya perlu memperbaiki cara penyampaiannya,” ungkap Deri Rizki Anggarani, salah seorang juri.

Yunita indah menambahkan bahwa naskah-naskah cerita dari peserta sangat layak untuk diterbitkan menjadi sebuah buku sehingga karya mereka bisa dikenang lebih lama dan menginspirasi pelajar Indonesia yang lain dalam skala yang lebih luas.

“Tulislah apa yang kau lakukan dan lakukan apa yang kau tulis. Dua jempol untuk teman-teman pejuang pendidikan di Taiwan,” pesan Yunita kepada para penulis.

(Fasty Arum Utami & Mufid Salim)

Workshop Batik – Remarkable Indonesia

Divisi Sosial, Budaya, dan Kreativitas Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan mengenalkan batik yang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia kepada penduduk lokal Taiwan dan orang asing di Taiwan dalam rangkaian perhelatan acara Remarkable Indonesia kedua yang digelar oleh Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI) pada hari Minggu (15/11) di pelataran Shinkong Mitsukoshi Xinyi district, Taipei, Taiwan.

Acara yang dikemas dalam bentuk mini workshop ini bertujuan untuk mengenalkan batik mulai dari alat dan bahan yang diperlukan dalam membatik, proses pembuatan batik, hingga penggunaan batik di Indonesia kepada para-pengunjung booth PPI Taiwan. Pengunjung yang berpartisipasi sebagian besar adalah warga lokal Taiwan serta mahasiswa internasional yang sedang menempuh pendidikan di Taiwan.


Pelatihan membatik yang disambut antusias oleh lebih dari 300-an peserta tersebut dipandu oleh seorang pakar batik, Kharisma Creativani, mahasiswa Indonesia asal Yogyakarta yang sedang menempuh pendidikan di jurusan Art Design di National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan.


Selain belajar membatik, pengunjung juga diperkenankan membawa pulang hasil karya mereka. Alhasil, beberapa pengunjung sangat antusias untuk membuat batik berulang kali seperti yang dilakukan oleh Giang Koi, seorang mahasiswa di Taiwan yang berasal dari Vietnam.


“Saya sangat menyukai batik, karena batik dibuat secara detail dan hati-hati, sehingga hasilnya sangat indah,“ ungkap Koi.


Koi juga menambahkan, kegiatan ini sangat menarik karena dapat belajar mengenai salah satu kebudayaan Indonesia dan berharap suatu saat dia dapat mengunjungi Indonesia untuk belajar batik secara langsung dari tempat asalnya.


Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Qiu Lian Chen, salah seorang pengunjung asal Taiwan. Sebelumnya ia mengaku belum pernah mengenal batik. Tetapi setelah dirinya mengikuti kegiatan ini, dia merasa batik adalah warisan budaya Indonesia yang sarat akan nilai-nilai filosofis kehidupan.


Chen menambahkan, “proses pembuatan batik yang membutuhkan keterampilan dan kerja keras yang tinggi sangat selaras dengan ketekunan yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai hasil yang maksimal dalam hidupnya. Selain itu, batik juga merupakan sesuatu yang spesial bagi Indonesia karena kita tidak akan menjumpai hal serupa di tempat lain.”


Pengunjung lain yang juga berasal dari Taiwan, Yiping Huang, mengatakan bahwa dia sangat senang dapat mengikuti pelatihan membuat batik di booth PPI Taiwan.


“Menurut saya kegiatan ini sangat unik dan menjadi daya tambah kegiatan pameran budaya Indonesia di Taiwan. Saya bisa belajar sesuatu dan punya kenangan indah dalam Remarkable Indonesia kali ini,” pungkas Huang. (Mufid Salim & Fasty Arum Utami)

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Kisah Inspiratif 2015

Hi sobat PPI Taiwan,

Di penghujung Hari Pahlawan tahun ini, kami ingin memberikan kabar gembira kepada seluruh rekan-rekan muda yang sedang dan pernah menuntut ilmu di Taiwan.

Setelah membaca, mencermati dan mencerna 51 naskah yang masuk ke meja panitia lomba menulis kisah pengalaman unik dan inspiratif bertema “Menuntut Ilmu di Bumi Formosa,” akhirnya tim juri memutuskan tiga naskah terbaik.

Kami mengucapkan terimakasih kepada para juri independen yang kompeten di bidangnya, mulai dari Deri Rizki Anggarani, seorang penulis buku, trainer sekaligus pendidik gizi, serta Yunita Indah, seorang penulis dan penyunting di PT Agro Media Pustaka, yang telah bekerja keras untuk menentukan tiga karya terbaik yang berhak mendapat penghargaan istimewa. Mengingat keseluruhan naskah yang kami terima merupakan karya-karya yang sangat inspiratif.

Hari ini, kami dengan bangga mengumumkan ketiga penulis berbakat yaitu:

  1. Damiana Simanjuntak (National Dong Hwa University, No. Registrasi 104-D10-009)

Karyanya yang berjudul “Nilai 2 dan Mimpi yang Semakin Nyata,” menurut tim juri merupakan kisah yang keren, inspiratif, dan motivatif. Kisahnya yang panjang namun mengundang pembaca untuk terus membaca kisahnya sampai akhir, karena pemilihan diksi dan celotehannya yang menarik, serta alur cerita yang mengalir dengan baik.

  1. Yogi Tri Prasetyo (National Taiwan University of Science and Technology, No. Registrasi 104-D10-011)

Karyanya berjudul “Teh Gang FORMOSA” merupakan cerita yang menurut tim juri, menggunakan gaya penulisan yang sangat menarik dengan menggunakan perumpamaan yang baik dan alur cerita yang mengalir.

  1. Alan Saputra (National Taipei University of Education, No. Registrasi 104-D10-048)

Tim juri memandang karyanya yang berjudul “Mencari Ruang Hangat di Bumi Formosa” merupakan karya dengan diksi pada judul yang membuat pembaca penasaran dan merupakan naskah yang layak dibaca bagi para pemburu beasiswa ke Taiwan.

Hadiah beserta sertifikat untuk para penulis terbaik akan diberikan pada pagelaran acara “Remarkable Indonesia” di booth PPI Taiwan, bertempat di Shinkong Mitsukoshi (dekat dengan Taipei 101) Xinyi district shopping mall area (samping Taipei Breeze Hotel), pada tanggal 15 November 2015 pukul 12.00 waktu Taipei. Kami mengundang kehadiran para penulis dalam pagelaran tersebut.

Kami mengucapkan selamat kepada ketiga penulis naskah terbaik dalam lomba tahun ini. Kisah-kisah yang ditulis ketiga penulis tersebut akan diterbitkan di website resmi PPI Taiwan (ppitaiwan.org).

Kepada rekan-rekan penulis lainnya, kami berharap semoga lomba ini dapat terus memberikan dorongan semangat berkarya yang lebih baik lagi. Kami juga berharap, kisah-kisah inspiratif anda dapat menjawab tantangan pahlawan Indonesia kini dan esok hari.

Salam sukses dan teruslah menginspirasi, untuk Indonesia yang lebih baik.

Panitia lomba menulis “Menuntut Ilmu di Bumi Formosa”

Divisi Sosial, Budaya, dan Kreativitas PPI Taiwan